KARAWANG – Perubahan iklim yang semakin ekstrem, penurunan kesuburan tanah, ketergantungan pupuk dan pestisida kimia yang tinggi, serta ketidakpastian pasokan air telah membuat pengelolaan sawah di Kabupaten Karawang semakin berat. Masalah-masalah itu tidak mengenal batas kepemilikan lahan. Gangguan air di satu petak bisa berdampak pada puluhan petak lain. Serangan hama atau gulma yang tidak ditangani serentak pun sulit diatasi. Karena itu, kerja kolektif bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Menjawab tantangan tersebut, tim Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat berjudul “Membangun Teknologi Kolektif: Penguatan Kapasitas Kelembagaan Petani Padi untuk Pengembangan Bersama Teknologi Pertanian Cerdas Iklim”. Program ini berjalan bertahap sejak Februari hingga Juli 2026 di Kelurahan Plawad, Kecamatan Karawang Timur.
Fokus utama kegiatan bukan sekadar mendatangkan alat atau aplikasi baru, melainkan membangun teknologi bersama petani sekaligus memperkuat kelembagaan kelompok tani. Kegiatan melibatkan Kelompok Tani Banyu Asih III serta Banyu Sakti I dan II, bekerja sama dengan PT Tani Bersama Estate (TBE), petugas penyuluh pertanian lapangan, dan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat.
Baca Juga:8 Negara Jadi Sahabat di SITH ITB Lewat Tropical Biodiversity Summer Course 202695 Persen Lulusan Terserap, SMKN 14 Bandung Gelar Edu Job Fair 2026
Dr. Angga Dwiartama, ketua tim pengabdian, menegaskan pentingnya pendekatan yang tepat. “Teknologi tidak akan otomatis membawa perubahan. Ia harus ditempatkan dalam konteks sosial yang tepat, dikembangkan bersama petani, dan didukung kelembagaan yang memungkinkan pengambilan keputusan secara kolektif,” ujarnya.
Berawal dari Masalah Irigasi
Lahan sawah di Karawang tergabung dalam satu bentang luas, tetapi dikelola ratusan rumah tangga dalam petak-petak kecil. Keputusan pemupukan, penyemprotan, hingga jadwal tanam kerap dilakukan secara individual. Padahal, persoalan pertanian bersifat lintas batas.
Melalui kunjungan lapangan intensif, pemetaan sosial, dan diskusi kelompok, tim ITB menemukan bahwa saluran irigasi yang rusak dan tersumbat menjadi salah satu masalah paling mendesak. Pembersihan dan perbaikan saluran pun dipilih sebagai pintu masuk untuk menghidupkan kembali semangat gotong royong.Petani dilibatkan penuh mulai dari menentukan prioritas saluran, membagi tugas, hingga melaksanakan kerja bakti bersama. Hasilnya tidak hanya aliran air yang lebih lancar, tetapi juga kepercayaan dan kebiasaan koordinasi yang mulai terbangun kembali.
