“Setiap ada masalah air, kami sekarang langsung duduk bersama, musyawarah, tentukan jadwal giliran air, dan sepakati waktu kerja bakti,” ungkap Pak Sudrajat, Wakil Ketua Kelompok Tani Banyu Asih III.
Penyuluh: Jembatan yang Tak Tergantikan
Petugas penyuluh pertanian lapangan memainkan peran sentral dalam seluruh proses. Mereka bukan hanya penyampai ilmu teknis, tetapi juga pemersatu antarpetani, penghubung dengan pemerintah, akademisi, dan mitra swasta. Kedekatan mereka dengan petani membuat pendampingan lebih berkelanjutan dan kontekstual.
Di era pertanian berbasis data, peran penyuluh semakin strategis. Teknologi seperti drone, sensor tanah, kecerdasan buatan, dan aplikasi rekomendasi pupuk hanya akan efektif jika informasi teknis tersebut bisa diterjemahkan ke dalam bahasa dan kondisi lapangan yang dipahami petani.
Belajar Dua Arah dengan Akademisi Belanda
Baca Juga:8 Negara Jadi Sahabat di SITH ITB Lewat Tropical Biodiversity Summer Course 202695 Persen Lulusan Terserap, SMKN 14 Bandung Gelar Edu Job Fair 2026
Program ini juga menghadirkan dua akademisi dari Wageningen University & Research, Belanda. Diskusi tidak berjalan satu arah. Petani tidak diposisikan sebagai penerima semata, melainkan sebagai pemilik pengetahuan lokal yang kaya tentang lahan, ekosistem, dan inovasi yang telah mereka kembangkan selama bertahun-tahun.
“Pengabdian kepada masyarakat adalah proses belajar bersama. Kami tidak boleh melihat petani sebagai kertas kosong. Mereka memiliki pengalaman, daya tawar, dan inovasi yang harus menjadi bagian integral pengembangan teknologi,” tegas Dr. Angga Dwiartama.
Interaksi dengan akademisi internasional membuka cakrawala baru bagi petani sekaligus memberi masukan berharga bagi para peneliti tentang bagaimana teknologi beradaptasi — atau harus diadaptasi — dalam realitas pertanian skala kecil di Indonesia.
Mengintegrasikan Teknologi dengan Kelembagaan
PT Tani Bersama Estate (TBE) membawa pendekatan pertanian presisi dan regeneratif yang menggabungkan mikroorganisme lokal, pemantauan drone, kecerdasan artifisial, dukungan pembiayaan, serta jaminan pasar. Namun, teknologi canggih itu sulit diimplementasikan optimal di lahan-lahan kecil yang terfragmentasi tanpa koordinasi kuat antarpetani.
Data drone bisa mencakup ratusan hektare, tetapi tindakan di lapangan tetap bergantung pada kesepakatan kolektif. Pengalaman memperbaiki saluran irigasi secara bersama ternyata menjadi fondasi sosial yang berharga untuk mengelola inovasi yang lebih kompleks di masa depan.
