BANDUNG – Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menorehkan cerita indah kolaborasi internasional. Dalam Tropical Biodiversity Summer Course 2026 bertema “Towards Sustainable Conservation”, 26 peserta dari delapan negara yang awalnya saling asing, kini berpisah sebagai sahabat.
Program yang digelar selama sepuluh hari, 10 hingga 19 Juli 2026, ini resmi ditutup di Selasar Labtek XI SITH ITB. Suasana penuh kehangatan terasa kental sepanjang acara penutupan. Dekan SITH ITB Dr. Indra Wibowo tak bisa menyembunyikan rasa bangga dan harunya.“Sepuluh hari lalu mereka datang ke sini sebagai orang asing. Hari ini, mereka pulang sebagai sahabat,” ujar Dr. Indra.
Lebih dari sekadar kursus musim panas, program ini dirancang agar peserta benar-benar merasakan denyut kehidupan keanekaragaman hayati tropis Indonesia. Selain mengikuti kuliah dari para pakar dunia, mereka diajak turun langsung ke lapangan di Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Pangandaran. Di sana, teori yang dipelajari di kelas bertemu langsung dengan realitas alam tropis yang kaya.
Baca Juga:95 Persen Lulusan Terserap, SMKN 14 Bandung Gelar Edu Job Fair 2026Jitu! Wartawan Metro TV Iwan Gumilar Tebak Skor Tepat 1-0
Dr. Husna Nugrahapraja, Ketua Program Studi Biologi SITH ITB, menjelaskan bahwa konservasi saat ini tidak bisa dilakukan secara parsial. “Kami ingin peserta memahami bahwa ilmu pengetahuan, pengalaman lapangan, dan hubungan antarmanusia harus berjalan beriringan,” katanya.
Keberhasilan program ini juga terlihat dari antusiasme peserta. Pada sesi penutupan, suasana semakin hidup ketika seluruh peserta memainkan angklung “Manuk Dadali” secara bersama. Alat musik tradisional Indonesia itu dimainkan dengan penuh semangat oleh tangan-tangan dari berbagai negara. Tak berhenti di situ, mereka juga mempersembahkan tarian tradisional Pakistan dan Nigeria, drama pendek, serta nyanyian dari berbagai bahasa. Malam itu, ruang seminar SITH ITB benar-benar menjadi panggung persahabatan lintas budaya.
Salah satu peserta internasional, Lorenzo dari Anglia Ruskin University, Inggris, tak bisa menutupi kesannya. Baginya, program ini memberi pelajaran berharga jauh melampaui ruang kelas. “Saya tidak hanya belajar tentang biodiversitas tropis, tapi juga membangun persahabatan dan jejaring yang insyaallah akan terus berlanjut,” ungkapnya.
