JABAR EKSPRES – Keputusan Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi mengganti nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cibabat menjadi RSUD Wijaya Mulya memunculkan sorotan dari kalangan akademisi.
Di tengah upaya transformasi layanan kesehatan yang digaungkan pemerintah daerah, kebijakan rebranding tersebut justru dinilai belum menjadi kebutuhan yang mendesak.
Pengamat politik dan pemerintahan Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), Arlan Siddha menilai pergantian identitas rumah sakit berpotensi mengalihkan perhatian dari persoalan utama yang selama ini lebih dinantikan masyarakat, yakni peningkatan kualitas pelayanan kesehatan.
Baca Juga:RSUD Cibabat Berganti Nama Jadi RSUD Wijaya Mulia, Ini Filosofi dan AlasannyaAlasan Dedi Mulyadi Ganti Nama RSUD Al Ihsan jadi Welas Asih
Sebagaimana diketahui, Wali Kota Cimahi Ngatiyana secara resmi mengumumkan perubahan nama RSUD Cibabat menjadi RSUD Wijaya Mulya dalam kegiatan Sosialisasi Hasil Kajian Rebranding RSUD Cibabat Kota Cimahi yang digelar di RSUD Cibabat, Senin (20/7/2026).
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi penanda rampungnya kajian rebranding yang dilakukan bersama PT MarkPlus Indonesia dan diklaim sebagai langkah awal transformasi rumah sakit milik Pemerintah Kota Cimahi menuju identitas baru sebagai RSUD Wijaya Mulya.
Namun, menurut Arlan, perubahan nama semata tidak memiliki urgensi yang cukup kuat apabila tidak dibarengi dengan pembenahan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
“Langkah tersebut berpotensi hanya menjadi tren ikut-ikutan atau Fear of Missing Out (FOMO) tanpa landasan filosofis yang mendalam,” kata Arlan melalui sambungan telepon, Rabu (22/7/2026).
Ia menilai nama RSUD Cibabat telah lama dikenal masyarakat dan selama ini tidak pernah menimbulkan persoalan dalam hal akses maupun identitas rumah sakit.
“Jangan sampai perubahan ini justru menimbulkan kebingungan baru bagi tenaga kesehatan, mitra kerja sama, hingga pemasok obat yang harus menyesuaikan dokumen kontrak dan administrasi dari awal lagi,” sebutnya.
“Belum lagi butuh adendum perjanjian kerja sama yang memakan waktu dan sumber daya. Harusnya mengutip pergantian nama RS Al-Ihsan di Jawa Barat yang membutuhkan masa adaptasi panjang,” sambungnya.
Baca Juga:Usulan KDM Soal Nama RSUD Al Ihsan jadi Welas Asih Tuai Kritik, Tak Prioritas dan Pemborosan Anggaran!Sesuai Keputusan Gubernur Jabar, RSUD Al Ihsan Berganti Nama Jadi RS Welas Asih
Arlan berpandangan, langkah yang lebih mendesak dilakukan pemerintah daerah adalah memperkuat kualitas pelayanan kesehatan, mulai dari peningkatan fasilitas, kelengkapan peralatan medis hingga kepuasan pasien.
“Rebranding sejati tercipta melalui kepercayaan publik atas kinerja yang prima, bukan sekadar papan nama baru,” ucapnya.
