NGADA – Satu tahun setelah Ekspedisi Patriot 2025, Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menjejakkan kaki di Desa Wolomeze, Kecamatan Riung Barat, Kabupaten Ngada pada 6 Juli 2026 lalu. Kali ini bukan sekadar kajian, melainkan aksi nyata berupa program pengabdian masyarakat yang membawa solusi teknologi pascapanen untuk meningkatkan nilai tambah komoditas kemiri andalan masyarakat setempat.
Tim pengabdian masyarakat ITB yang dipimpin Prof. Endah Sulistyawati, S.Si., Ph.D., membawa serta dua dosen lain, Dr. Ir. Rijanti Rahaju Maulani, S.P., M.Si. dan Dr. rer. nat. Widodo, S.T., M.T., serta tiga mahasiswa: Yosua Kevin Siahaan, Gavriel Reynard Nathanael, dan Naila Reevaliyah Parsa. Mereka turun langsung mendampingi warga selama dua hari penuh.
Menurut Prof. Endah, kegiatan ini merupakan tindak lanjut langsung dari temuan Ekspedisi Patriot 2025, program kolaborasi Kementerian Transmigrasi dan ITB di kawasan transmigrasi Bajawa. “Kemiri adalah komoditas unggulan masyarakat di sini, tetapi nilai tambahnya masih rendah karena pengolahan pascapanen masih dilakukan secara manual dan tradisional. Temuan itu mendorong kami untuk segera turun lagi dengan solusi konkret,” ujarnya.
Baca Juga:Bus Primajasa Diduga Tabrak Motor di Kadungora, Korban Ditinggal KaburJejak Kolaborasi Internasional Membangun Informasi Geospasial Indonesia
Dengan dukungan Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB, tim lintas disiplin ini mendatangkan mesin pemecah kemiri beserta peralatan pendukung. Sekitar 50 peserta mengikuti pelatihan intensif yang mencakup penanganan pascapanen, penggunaan mesin, teknik pengemasan produk berkualitas, hingga strategi pemasaran digital.
Dr. Rijanti Rahaju Maulani memimpin sesi teknis, memastikan setiap peserta tidak hanya menyimak teori, tetapi juga langsung mempraktikkannya. Puncak kegiatan adalah penyerahan hibah mesin pemecah kemiri kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Wolomeze. Alat ini diharapkan menjadi modal utama dalam mengolah kemiri secara lebih efisien, meningkatkan produktivitas, dan menghasilkan produk yang lebih bernilai jual tinggi.
Program ini juga lahir dari aspirasi masyarakat sendiri. Setelah Ekspedisi Patriot tahun lalu, Kepala Desa Wolomeze menyampaikan kebutuhan mendesak akan teknologi sederhana yang bisa langsung dimanfaatkan. ITB merespons cepat permintaan tersebut. Selain pelatihan, tim ITB mengajak pengurus BUMDes melakukan studi banding ke Desa Inegena, Kecamatan Bajawa Utara, yang sudah berhasil mengembangkan usaha pengolahan kemiri berbasis desa secara profesional.
