Kunjungan ini memberi gambaran nyata bagaimana mengelola usaha kemiri secara berkelanjutan dan berorientasi pasar.Prof. Endah Sulistyawati menekankan pentingnya keberlanjutan kolaborasi. “Kami berharap apa yang dimulai dari Ekspedisi Patriot dapat terus berlanjut menjadi program-program nyata yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat di kawasan transmigrasi,” katanya.
Di sela kegiatan utama, tim ITB juga melaksanakan survei cepat kondisi air tanah di Desa Uluwae II. Desa transmigrasi ini sempat teridentifikasi mengalami keterbatasan akses air bersih saat Ekspedisi Patriot 2025. Survei awal ini akan menjadi dasar bagi perumusan program pendampingan teknologi air di masa depan.
Kegiatan pengabdian ITB di Ngada ini menjadi contoh nyata bagaimana hasil penelitian dan kajian lapangan dapat dengan cepat diwujudkan menjadi solusi yang bermanfaat bagi masyarakat. Dengan teknologi yang tepat dan pendampingan yang berkelanjutan, kemiri Wolomeze diharapkan tidak lagi sekadar komoditas mentah, melainkan produk bernilai tinggi yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan perekonomian desa. (bbs)
