BANDUNG – Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar International Conference on Multi-Omics in Life Sciences (IC-OMICS 2026) pada 8–9 Juli 2026 di Aula Barat ITB. Konferensi ilmiah internasional ini menjadi ajang penting bagi para peneliti, akademisi, praktisi industri, dan pemerintah untuk mempercepat penerapan teknologi multi-omics di Indonesia.
Ketua Panitia IC-OMICS 2026, Popi Septiani Ph.D., menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar forum ilmiah biasa. Acara ini dirancang sebagai ruang pertemuan bagi para ahli dari dalam dan luar negeri untuk bertukar pengetahuan serta membangun kolaborasi nyata. “Kami mengumpulkan praktisi industri, institusi pemerintah, akademisi, dan peneliti dari seluruh Indonesia. Kami juga menghadirkan pembicara asing dari Taiwan, Jepang, Malaysia, Amerika Serikat, dan Inggris,” ujar Popi, di sela-sela acara, Rabu (8/7/2026).
Multi-omics, menurutnya, merupakan pendekatan multidisiplin yang menggabungkan genomics (studi DNA), transcriptomics, proteomics (protein), metabolomics, lipidomics, serta bioinformatik. Teknologi ini berfungsi sebagai “alat canggih” yang mendukung riset besar di bidang kesehatan, pertanian, bioindustri, dan lingkungan.
Baca Juga:Pelantikan Wanoja Perjuangan Jabar, Fatmawati Trofi Gaungkan Kepemimpinan PerempuanDesak Pelaku Utama Segera Ditangkap, Keluarga Korban Pembunuhan Ujungberung Tuntut Keadilan
“Dengan multi-omics, kita bisa memahami blue print urutan DNA, sehingga mampu merancang vaksin lebih tepat sasaran, pengobatan presisi sesuai karakter genetik individu, serta varietas tanaman unggul yang lebih cepat dikembangkan,” jelas Popi.
Ia mencontohkan aplikasi nyata di sektor kesehatan. Dengan mengetahui genom virus secara mendalam, Indonesia dapat lebih siap menghadapi pandemi mendatang melalui genomic surveillance. Demikian pula untuk penyakit tuberkulosis (TB), pemahaman terhadap strain bakteri Mycobacterium tuberculosis lokal memungkinkan perancangan obat yang lebih efektif dan suveillans penyakit.
Di bidang pertanian dan ketahanan pangan, multi-omics membantu merakit varietas tanaman tahan kekeringan, hama, dan perubahan iklim. Popi menyebut beberapa produk yang sudah sampai ke petani, seperti varietas padi, jagung, tebu, dan bahkan tanaman yang telah melalui genome editing. “Indonesia negara megabiodiversitas. Melalui pendekatan ini, kita bisa mengeksplorasi senyawa-senyawa baru dari kekayaan alam untuk bahan obat, antivirus, dan produk bioindustri yang bermanfaat bagi masyarakat,” tambahnya.
