Selain dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga, air tersebut juga digunakan untuk mengairi lahan pertanian dan perkebunan warga.
“Sejauh ini kebutuhan air masyarakat masih aman. Warga memanfaatkan sumur bor dan mata air yang dialirkan ke rumah-rumah, sehingga belum ada kendala berarti,” jelasnya.
Meski belum pernah mengalami kekeringan ekstrem, Ayi mengakui warga kini lebih waspada setelah mengalami bencana longsor.
Baca Juga:Indonesia-Kazakhstan Bentuk Komite Bersama, Buka Peluang Investasi Industri di Kawasan Eurasia5.597 Gerakan Pangan Murah Digelar, Bapanas: Untuk Tekan Inflasi
Sementara itu, proses relokasi warga terdampak longsor masih terkendala pencarian lahan. Pemerintah membutuhkan area yang cukup luas agar seluruh warga dapat dipindahkan ke lokasi yang aman.
Ayi mengungkapkan salah satu lahan yang sempat dipertimbangkan memiliki harga sekitar Rp10 juta per tumbak, sehingga menyulitkan proses pembebasan.
“Kendalanya ada di harga lahan yang cukup tinggi dan ketersediaan lahan yang sesuai. Pemerintah masih terus mencari lokasi yang benar-benar aman untuk relokasi warga,” pungkasnya. (Wit)
