Menurutnya, ketika dalam satu koloni telah muncul dua ratu lebah, koloni tersebut akan membelah diri. Sebagian koloni akan mencari habitat baru sehingga perkembangan lebah tidak bergantung pada satu titik budidaya saja.
“Kalau dibudidayakan ada ratu dua, nanti satu koloni itu keluar dan bisa masuk ke mana saja. Jadi enggak harus selalu masuk ke tempat saya,” ujar Aep.
Konsep itulah yang kemudian membuat Kampung Madu Ciburial berkembang sebagai kawasan budidaya bersama. Pengunjung tidak hanya diarahkan ke satu lokasi, melainkan dapat berkeliling mengunjungi rumah-rumah warga lain yang juga membudidayakan lebah madu.
Baca Juga:Peralihan dari Sarimukti ke Legoknangka Berpotensi Tambah Beban Operasional Persampahan di CimahiResmikan Bank Kain Kafan Gratis di Rumah Aspirasi, Fathi: Bantu Masyarakat yang Kesulitan
Menurut Aep, hampir seluruh peternak membuka diri bagi masyarakat yang ingin melihat langsung proses budidaya maupun pengolahan madu. Semangat saling mendukung antarpeternak juga terus dipertahankan, mulai dari saling membeli koloni lebah hingga membantu pemasaran madu ketika musim panen tiba.
“Kan langsung ke alam juga. Jadi, pengunjung bisa masuk ke tempat-tempat lain yang dikelola tetangga atau warga yang selama ini bersama-sama mengembangkan Kampung Madu. Di antara kami juga saling mendukung, misalnya dengan membeli koloni lebah dari peternak lain atau membeli madu ketika mereka sedang panen,” imbuh Aep.
Di balik geliat budidaya yang terus berkembang, Aep menyimpan harapan agar Kampung Madu Ciburial tidak hanya dikenal sebagai tempat menjual madu atau destinasi edukasi. Baginya, kawasan tersebut harus tetap mempertahankan identitasnya sebagai sentra budidaya lebah madu yang benar-benar hidup.
Ia tidak ingin pengunjung yang datang justru pulang tanpa melihat aktivitas perlebahan. Menurutnya, keberadaan lebah harus tetap menjadi ciri utama kawasan tersebut agar nama Kampung Madu Ciburial tidak hanya dikenal, tetapi juga sesuai dengan kondisi di lapangan.
“Kalau untuk budidaya lebah madu, saya berharap jangan sampai orang yang pernah datang ke sini bilang, ‘Saya pernah ke sini,’ tapi ternyata waktu datang justru enggak melihat ada lebah. Nanti takutnya kesannya, dulu pernah ke sini mungkin ada lebah, sekarang malah enggak ada,” harap Aep.
Aep menuturkan, identitas Lebah Madu Ciburial harus terus dijaga seiring berkembangnya kawasan tersebut. Ketika masyarakat mencari lokasi itu melalui Google Maps maupun media sosial, yang muncul di benak mereka bukan hanya sebuah nama, melainkan kawasan yang dipenuhi aktivitas budidaya lebah madu.
