Baginya, keberlangsungan budidaya jauh lebih penting dibanding sekadar popularitas. Ia berharap keberadaan lebah tetap terjaga sehingga manfaat ekonomi maupun edukasi yang selama ini dirasakan masyarakat bisa terus berlanjut.
“Yang saya inginkan, lebahnya tetap ada dan budidayanya juga tetap berjalan. Jangan sampai nanti orang yang pernah datang ke sini bilang, ‘Dulu ada, sekarang sudah tidak ada.’ Itu yang saya harapkan,” kata Aep.
Selain menjaga keberlangsungan koloni lebah, Aep masih menyimpan impian untuk mengembangkan usahanya. Ia berharap suatu saat memiliki lahan budidaya yang lebih luas sehingga proses pengembangan koloni tidak lagi bergantung pada lahan milik pihak lain.
Baca Juga:Peralihan dari Sarimukti ke Legoknangka Berpotensi Tambah Beban Operasional Persampahan di CimahiResmikan Bank Kain Kafan Gratis di Rumah Aspirasi, Fathi: Bantu Masyarakat yang Kesulitan
Meski begitu, keterbatasan lahan yang dimiliki saat ini tidak menyurutkan semangatnya. Menurut Aep, kawasan sekitar yang masih dipenuhi pepohonan menjadi keuntungan tersendiri karena menyediakan sumber pakan alami bagi ribuan lebah yang dipeliharanya.
“Meskipun lahan yang kami kelola hanya sekitar 200 meter, alhamdulillah di sekitar sini masih banyak area yang rimbun. Kondisi itu sangat membantu karena koloni lebah bisa diperbanyak. Semakin banyak kawasan yang rimbun, semakin melimpah pula sumber pakan bagi lebah, sehingga budidayanya juga bisa berkembang lebih optimal,” terang Aep.
Saat ini, Aep mengelola hampir 30 kotak sarang yang dihuni ribuan ekor lebah. Produksi madu dari setiap panen bergantung pada musim berbunga. Ketika nektar melimpah, panen dapat dilakukan sekitar satu bulan sekali, bahkan dalam kondisi tertentu bisa berlangsung lebih cepat.
Hasil panen pun bervariasi. Dalam satu periode panen, madu yang dihasilkan bisa mencapai dua kilogram, tiga kilogram, lima kilogram, hingga sekitar 10 kilogram saat musim bunga sedang melimpah. Seluruh madu kemudian melalui proses pengemasan sebelum dipasarkan dalam berbagai ukuran botol.
“Kalau sekali panen, hasilnya bisa sekitar 2 kilogram, 3 kilogram, 5 kilogram, bahkan sampai 10 kilogram saat musim bunga. Untuk harganya menyesuaikan ukuran kemasan, mulai dari Rp50 ribu sampai Rp100 ribu,” imbuh Aep.
Di balik manisnya madu yang dihasilkan, terdapat pekerjaan yang penuh risiko. Sengatan lebah menjadi bagian dari keseharian Aep selama puluhan tahun menekuni usaha tersebut. Namun, pengalaman panjang membuatnya semakin memahami karakter koloni lebah yang dipeliharanya.
