JABAR EKSPRES – Paparan debu batu kapur di kawasan Padalarang-Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) mulai berdampak pada kesehatan masyarakat.
Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat (KBB) mencatat keluhan yang paling banyak dialami warga berupa batuk, tenggorokan gatal, mata perih, hingga sesak napas.
Menanggapi hal itu, Dinkes Bandung Barat menerjunkan Tim Surveilans untuk memantau dampak paparan debu sekaligus mengantisipasi munculnya peningkatan kasus penyakit di wilayah terdampak.
Baca Juga:Persib Ungkap Proses Rekrut Sandy Walsh dan Luka Menalo, Isyaratkan Transfer Belum SelesaiKios Liar di Area Masjid Agung Tasikmalaya Dibongkar, Pedagang Mulai Tinggalkan Lokasi
“Pemantauan dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan masyarakat sejak dini sekaligus mengantisipasi apabila terjadi peningkatan keluhan atau kasus penyakit yang berkaitan dengan paparan debu,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes KBB, Lia Nurliani Sukandar, Jumat (3/7/2026).
Berdasarkan hasil pemantauan Puskesmas, keluhan yang paling banyak disampaikan warga meliputi batuk, tenggorokan terasa gatal atau kering, bersin, pilek, serta mata merah, perih, dan berair. Selain itu, debu yang masuk ke dalam rumah juga dikeluhkan karena mengganggu aktivitas dan kenyamanan sehari-hari.
Menurut Lia, warga yang memiliki riwayat asma maupun penyakit paru menjadi kelompok yang paling rentan terdampak paparan debu batu kapur. Paparan debu membuat keluhan sesak napas lebih mudah muncul atau kambuh sehingga mereka perlu lebih waspada.
Meski keluhan kesehatan mulai bermunculan, hingga saat ini Dinkes belum menemukan adanya lonjakan kunjungan pasien ke puskesmas maupun fasilitas kesehatan yang secara langsung berkaitan dengan paparan debu batu kapur.
“Hasil pemantauan kami menunjukkan belum ada peningkatan kunjungan ke puskesmas atau fasilitas kesehatan yang signifikan dan dapat dikaitkan secara langsung dengan paparan debu kapur. Namun, kami tetap melakukan pemantauan secara berkala,” ujarnya.
Lia menjelaskan, debu batu kapur merupakan partikel yang dapat mengganggu kesehatan apabila terhirup dalam kadar tinggi, berulang, atau dalam jangka waktu lama.
Kelompok yang paling rentan mengalami dampak ialah balita, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit pernapasan seperti asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan alergi saluran napas.
Baca Juga:Pengaspalan di Area Alun-Alun Singaparna Dimulai, Ratusan Lapak Pedagang di Bahu Jalan DitertibkanRumor Osmar Vieira ke Persib Mencuat, Benarkah Pangeran Biru Siapkan Peran Baru untuk Eks Pelatih Persepolis?
Paparan debu tersebut dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, tenggorokan, hingga saluran pernapasan. Gejala yang umum muncul antara lain mata merah dan berair, bersin, pilek, tenggorokan gatal, batuk, hingga sesak napas.
