JABAR EKSPRES – Badan Pusat Statistik (BPS) RI melaporkan inflasi Indonesia pada Juni 2026 mencapai 3,34 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Merespons laporan tersebut, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyebut bahwa, inflasi Juni tahun ini sangat dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas yang fluktuatif.
Khususnya, kata dia, harga bahan bakar minyak (BBM) dan sejumlah komoditas pangan. Untuk itu, ia memperkirakan tekanan inflasi akan secepatnya mereda.
Baca Juga:Bupati Cecep Bidik Tasikmalaya Jadi "Daerah Seribu Event", Festival hingga Kontes Ternak DisiapkanDiikuti 6.000 Pelari dari 10 Negara Surabaya Green Force Run 2026 Tegaskan Surabaya Destinasi Sport Tourism
“Tapi kan sama ada cabai, dan lain-lain gitu kan, barang-barang itu. Itu kan (komoditas) musiman. Saya harapkan sih nanti setelah harga minyak ini kan udah turun, harga pertamax saya yakin akan turun pelan-pelan itu sesuai dengan harga minyak dunia. Jadi itu tekanan ke inflasi akan segera berkurang,” paparnya, dikutip Kamis (2/7/2026).
Kendati begitu, Menkeu menilai laju inflasi saat ini belum mencerminkan adanya peningkatan permintaan yang berlebihan dari masyarakat.
Hal itu, lanjutnya, tercermin dari inflasi inti yang masih berada pada level yang relatif terkendali. “Basically gitu, kita liat core inflation-nya 2,76 persen. Core inflation-nya kan masih relatif terkendali,” ujarnya.
“Jadi itu karena harga yang fluktuatif saja, minyak, BBM, dan tadi harga pangan. Itu harusnya akan hilang dalam waktu beberapa bulan ke depan, karena core-nya masih stabil. Jadi kenaikannya bukan karena demand yang terlalu cepat,” pungkasnya.
Adapun Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Indonesia pada Juni 2026 mencapai 3,34 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi tercatat sebesar 0,44 persen.
Kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar dengan inflasi sebesar 2,29 persen dan memberikan andil 0,28 persen terhadap inflasi nasional.
Tiga komoditas utama yang mendorong inflasi kelompok transportasi adalah bensin dengan andil 0,21 persen, tarif angkutan udara sebesar 0,05 persen, serta pelumas atau oli mesin sebesar 0,01 persen.
Baca Juga:Mayat Pria Ditemukan Mengambang di Sungai Cisadane Bogor, Ini Kata PolisiLibur Masak, Paguyuban Relawan SPPG Tasikmalaya Ajak Mitra Lengkapi Perizinan
Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,20 persen dengan andil 0,06 persen.
Komoditas yang paling besar menyumbang inflasi pada kelompok ini, antara lain bawang merah dengan andil 0,04 persen, bawang putih sebesar 0,03 persen, dan beras sebesar 0,02 persen.
Kemudian, inflasi inti pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,23 persen (mtm) dan 2,76 persen (yoy).
