JABAR EKSPRES – Wakil Ketua Komisi V DPRD Jawa Barat Siti Muntamah turut bersuara terkait kasus penyekapan yang terjadi di Bandung, alarm terkait tingkat kepedulian di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Politikus PKS itu menguraikan, pihaknya tentu prihatin dengan kejadian tersebut. Menurutnya kasus itu jadi pengingat bahwa sikap peduli di masyarakat kian luntur.
Ia menjelaskan, Kasus penyekapan dan penganiayaan yang menimpa Yuvita Tri Rezeki (YTR) dinilai menjadi pengingat bahwa kepedulian keluarga dan kontrol sosial di tengah masyarakat tidak boleh melemah. Dua aspek tersebut dinilai menjadi benteng utama untuk mencegah peristiwa serupa kembali terjadi.
Baca Juga:Warga Keluhkan Truk Tronton Penuhi Jalan Raya Klapanunggal Bogor, Macet hingga Jalur Cepat RusakPercepatan Sertifikasi Halal Jadi Kunci Meningkatnya Daya Saing Wisata Ramah Muslim Indonesia
Menurutnya, kepedulian tidak cukup diwujudkan melalui komunikasi sesaat atau sekadar mengetahui kabar seseorang. Ia menilai perhatian harus diwujudkan melalui hubungan yang dekat dan kesediaan untuk memastikan kondisi anggota keluarga ketika muncul tanda-tanda yang tidak biasa.
“Kepedulian itu penting. Apalagi dengan anggota keluarga, ” katanya, Senin (29/6).
Perempuan yang akrab disapa Umi Oded itu melanjutkan, keluarga memiliki tanggung jawab yang tidak dapat dialihkan kepada siapa pun. Menurutnya, keberadaan wali bukan sekadar simbol dalam keluarga, melainkan bentuk tanggung jawab yang harus dijalankan ketika ada anggota keluarga yang membutuhkan perlindungan.
Peran itu utamanya ada di bapak. “Kalau tidak saudara laki-lakinya, atau pamannya. Itu tanggung jawab penuh, ” jelasnya.
Menurut Siti Muntamah, peristiwa yang menimpa YTR itu jadi alarm soal kepedulian karena peristiwa sudah cukup berlarut. Tidak hanya di lingkungan keluarga tapi di lingkungan masyarakat.
Dalam budaya Sunda, selama ini dibangun di atas nilai keramahan dan kepedulian antar sesama. Nilai tersebut, tidak akan hidup apabila masyarakat kehilangan kebiasaan untuk hadir, menyapa, dan memperhatikan orang-orang terdekatnya.
“Menurut kami ini (budaya) mulai redup, bahkan berkurang, sedikit keterkaitan dengan interaksi sosial. Padahal budaya Sunda itu ya, someah hade ka semah, ” katanya.
Ia berharap peristiwa yang menimpa YTR tak terulang. Kasus itu menjadi momentum untuk menghidupkan kembali budaya saling menjaga di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Baca Juga:Jelang Berlaku Juli 2026, Banyak UMKM Masih Bingung Skema Pajak MarketplacePesta Patok Meriahkan HUT Tasikmalaya dan Bhayangkara, Bukan Sekedar Kontes Kecantikan Hewan Ternak
Menurutnya, kehadiran dan kepedulian merupakan benteng pertama agar tragedi serupa tidak kembali terjadi.
