JABAR EKSPRES – Penanganan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) berat di Kota Cimahi masih menghadapi persoalan serius.
Meski ratusan pasien telah mendapatkan layanan kesehatan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cimahi mengungkap tantangan terbesar justru datang dari stigma masyarakat, keterlambatan pengobatan, hingga minimnya dukungan lingkungan terhadap penderita gangguan kesehatan jiwa.
Berdasarkan data pelayanan kesehatan ODGJ berat tahun 2025, sebanyak 907 orang telah mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar dari fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) yang tersebar di tiga wilayah kecamatan di Kota Cimahi.
Baca Juga:Proyek Cirahong 2 Tunggu Kepastian Pusat, Pemkab Tasikmalaya Siapkan Dana untuk Bebaskan LahanKekeringan Kembali Terjang Nanggung Bogor, 512 Warga Terdampak Krisis Air Bersih
Jumlah tersebut bahkan melampaui sasaran yang ditetapkan. Dari target sebanyak 874 ODGJ berat, capaian pelayanan mencapai 107 persen.
Data tersebut mencakup pasien dengan gangguan skizofrenia maupun psikosis akut yang memperoleh pendampingan serta layanan medis melalui puskesmas.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Cimahi, dr. Reri Marliah mengatakan, pemerintah daerah terus memperkuat sistem layanan kesehatan jiwa.
Namun, meningkatnya perhatian terhadap kasus ODGJ tidak hanya berkaitan dengan jumlah pasien, tetapi juga bagaimana masyarakat dan keluarga mampu memberikan dukungan selama proses pemulihan.
Menurutnya, penanganan ODGJ berat membutuhkan pendekatan menyeluruh, mulai dari pengobatan, pendampingan keluarga, hingga penerimaan sosial di lingkungan tempat tinggal pasien.
“Termasuk juga, pengusulan obat program kesehatan jiwa pada Dinas Kesehatan Kota Cimahi dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, melakukan pendampingan Puskesmas dalam pelaksanaan kegiatan pendampingan psikiater di Puskesmas, dan rapat koordinasi TPKJM Kota Cimahi,” ujarnya kepada Jabar Ekspres, Kamis (25/6/26).
Reri menjelaskan, berbagai program kesehatan jiwa telah dijalankan sepanjang 2025. Program tersebut meliputi pendampingan keluarga pasien jiwa oleh psikolog di FKTP, penanganan ODGJ gaduh gelisah melalui TIREX’S, sosialisasi P3LP di tempat kerja, skrining kesehatan jiwa, monitoring dan evaluasi program, hingga pelatihan terpadu untuk memperkuat layanan kesehatan jiwa di masyarakat.
Baca Juga:Polres Tasikmalaya Turun Tangan Percantik Alun-Alun Singaparna, Gaungkan Semangat Indonesia AsriMahasiswa Ditemukan Tewas di Semak-semak Ciseeng, Polisi Masih Selidiki Penyebab Kematian
“Penguatan layanan juga dilakukan dengan memastikan ketersediaan obat serta meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan di puskesmas,” bebernya.
Memasuki 2026, Dinkes Kota Cimahi menyiapkan sejumlah strategi baru untuk memperkuat pencegahan dan penanganan gangguan kesehatan jiwa.
Di antaranya pembentukan Warga Sadar Kesehatan Jiwa, sosialisasi pertolongan pertama pada luka psikologis di sekolah, pendampingan puskesmas bersama psikiater, hingga dukungan kepada RSUD Cibabat agar memiliki ruang rawat inap bagi pasien jiwa.
