Diprediksi Bakal Kemarau Panjang, Dinkes Jabar Imbau Masyarakat Waspada ISPA

Ilustrasi: Kekeringan yang melanda di Jabar.
Ilustrasi: Kekeringan yang melanda di Jabar. (Foto: Dok. JE)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap penyebaran penyakit inspeksi saluran pernafasan (ISPA), merespon musim kemarau yang diprediksi bakal lebih panjang.

BMKG mencatat bahwa puncak musim kemarau sebagian besar diprediksi terjadi pada bulan Agustus 2026 yang mencakup 48,84 persen luas daratan Indonesia.

Lalu jika dibandingkan dengan normalnya, durasi musim kemarau di Indonesia umumnya diprediksi lebih panjang yaitu berlangsung tiga hingga tujuh bulan tergantung wilayah.

Baca Juga:Festival Musik dan Ekonomi Digital Jadi Mesin Pertumbuhan Baru NasionalKadin Dorong Kemitraan Strategis RI-China untuk Perkuat Industri Masa Depan

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Vini Adiani Dewi menjelaskan, kemarau panjang tentu berdampak pada aktivitas masyarakat, sumber daya hingga ujungnya soal kesehatan.

Hadirnya musim kemarau esktrem mengakibatkan pasokan air bersih menurun sehingga kebersihan berkurang. Kondisi itu menjadikan virus dan bakteri terkonsentrasi sehingga beberapa penyakit berkembang, seperti diare.

Selain air bersih berkurang, musim kemarau juga biasanya disertai kondisi udara yang lembab. Hal itu berisiko mengakibatkan dehidrasi atau tubuh kehilangan cairan saat suhu tinggi.

“Jadi waspadai pula kondisi suhu tubuh jika tiba tiba meningkat secara drastis. Istilahnya heatstroke,” katanya, Minggu (21/6).

Vini melanjutkan, kenaikan suhu itu perlu segera ditindaklanjuti agar tak terjadi hal yang tak diinginkan.

“Jadi kalau suhu tubuh lebih dari 40 derajat celsius, kulit panas dan merah, pusing, muntah, segera cari pertolongan medis,” katanya.

Vini melanjutkan, penyakit lain yang biasanya menyerang tubuh saat kemarau adalah ISPA. Penyakit tersebut muncul karena asap dan kualitas udara yang buruk saat kemarau.

Baca Juga:Diduga Meleng, Pemotor Tewas dalam Kecelakaan Tunggal di Cibinong BogorBocah Main Lilin Saat Mati Lampu, 3 Rumah dan 1 Motor Ludes Terbakar di Bojonggede Bogor

“Kami imbau masyarakat tidak bakar sampah dan bakar lahan. Itu makin memperburuk,” katanya.

Kemarau panjang juga mengakibatkan kekeringan sehingga mengurangi produksi pangan. Malnutrisi merupakan kondisi yang bisa muncul karena kondisi itu.

Untuk menghindari berbagai penyakit, masyarakat diimbau melakukan langkah preventif, seperti minum dan istirahat yang cukup, menggunakan payung atau topi saat beraktivitas di bawah terik matahari serta mengonsumsi makanan bergizi.(son)

0 Komentar