“Tetapi memang berbeda (dengan tahu ini). Karena ini asetnya pemerintah, pemerintahnya juga langsung lebih mendekat gitu ya,” ucapnya
Untuk menyampaikan tema yang dinilai berat ke masyarakat, yayasan menggandeng sekolah yang sebelumnya dibina dalam kegiatan perubahan iklim. Sekolah yang dilibatkan adalah SDN 69, SMPN 51, dan SMAN 27 Kota Bandung.
Untuk SDN 69, menurutnya dalam pameran ini membuat instalasi bunga dan kupu-kupu. Sementara untuk SMPN 51, Kata dia membuat serangga, dan SMAN 27.
Baca Juga:Bongkar Mitos UMKM Kuliner, Polytron dan Populix Hadirkan Peta Jalan Naik Kelas Berbasis DataBPBD Kabupaten Bogor Prediksi Puncak Kekeringan Terjadi Agustus-September
“Disitu kami minta 60 anak, workshop bareng bikin kupu-kupu sambil diceritakan kupu-kupu endemik Bandung, siklus hidupnya, dan sebagainya. Jadi tujuannya untuk apa ?, aupaya orang yang tidak punya akses ke kami jadi tertarik. Banyak yang akhirnya masuk karena lihat kecoa besar itu (yang menempel di kaca),” katanya.
Ramalis menyebut, hampir seluruh instalasi dibuat dari sampah daur ulang. Bahan yang digunakan antara lain botol, kardus, kresek, bubble wrap, dan kertas bekas tugas.
Maka dari itu, lewat pameran ini, Ramalis menuturkan bahwa pihaknya ingin memberikan pesan agar masyarakat khususnya di Kota Bandung dapat tetap menjaga kelestarian serta keanekaragaman hayati.
“Kota itu kapitalistik. Makin besar kegiatannya makinbanyak polusinya, makin tinggi eksploitasi terhadap alamnya makin luas karena rakusnya kita manusia. Sedangkan sisi yang lain, ternyata si binatang di sini ada lima tanaman, insect, burung, amfibi, dan reptil. Ini adalah indikator alam. Kalau mereka berubah kondisi, berubah wujud, hilang, itu artinya alamnya terganggu,” Imbuhnya
Sementara itu, Manager Program Kehutanan Yayasan KEHATI, Christian Natalie mengungkapkan pameran ini menjadi ruang belajar sekaligus ruang gerakan bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memahami bahwa keberadaan pohon, burung, serangga, amfibi, hingga reptil di kota merupakan bagian penting dari ekosistem yang menopang kualitas hidup manusia.
“Banyak orang menganggap kota hanya milik manusia. Padahal sebelum kota berkembang, berbagai spesies tumbuhan dan satwa telah lebih dahulu hidup di ruang yang sama. Jika biodiversitas terus terdesak, pada akhirnya manusia juga yang akan kehilangan kualitas hidupnya,” kata Natalie.
Melalui program Urban Biodiversity, Yayasan KEHATI mendorong upaya pemulihan keanekaragaman hayati perkotaan sebagai bagian dari pembangunan kota yang berkelanjutan.
