“Dari pengelolaan sampah, margin yang masuk ke koperasi sekitar Rp5 sampai Rp6 juta. Kalau keseluruhannya sekitar Rp45 juta,” ujarnya.
Saat ini, koperasi memiliki sekitar 360 anggota aktif. Selain itu, minat masyarakat untuk menabung melalui koperasi juga terus meningkat. Hasan menyebut simpanan sukarela anggota kini mencapai sekitar Rp100 juta setiap bulan.
“Kepercayaan masyarakat terhadap koperasi semakin tinggi. Salah satu indikatornya terlihat dari besarnya simpanan sukarela yang masuk setiap bulan,” katanya.
Baca Juga:BPBD Kabupaten Bogor Prediksi Puncak Kekeringan Terjadi Agustus-SeptemberKapolda Jabar Cup 2026 : Sempat Tertinggal, Tim Voli Polres Tasikmalaya Menang Telak 3-0 di Laga Perdana
Meski demikian, Hasan mengakui permodalan masih menjadi tantangan utama dalam mengembangkan berbagai unit usaha koperasi, termasuk rencana pengembangan gerai sembako yang lebih besar.
“Kalau kendala paling utama memang modal. Kami membutuhkan suntikan modal untuk mengembangkan usaha-usaha yang sudah direncanakan,” ungkapnya.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, KDKMP Lengkong saat ini menggandeng pengusaha lokal melalui pola kemitraan. Salah satunya diterapkan pada budidaya cabai yang dipanen hari ini, dengan skema pembagian hasil antara investor dan koperasi.
“Alhamdulillah kerjasama kemitraan ini sudah berjalan dan hari ini kita bisa melaksanakan panen raya,” kata Hasan.
Disisi lain, Camat Bojongsoang, Kankan Taufik, mengatakan seluruh KDMP di enam desa yang ada di wilayahnya telah terbentuk dan memiliki badan hukum.
Ia menjelaskan setiap desa mengembangkan model bisnis yang berbeda sesuai potensi masing-masing.
Di Desa Lengkong, koperasi bergerak di bidang pengelolaan sampah dan pertanian. Sedangkan Desa Tegalluar mengembangkan usaha beras, sementara Desa Buahbatu menggandeng toko-toko lokal untuk memberikan manfaat ekonomi kepada anggota koperasi.
Baca Juga:Ribuan Motor Listrik BGN Senilai Rp1,3 Triliun di Sentul Bogor Disegel!Semarak Hari Bhayangkara ke-80, Polres Tasikmalaya Gelar Lomba MTQ dan Adzan
“KDMP Lengkong bergerak di bidang persampahan dan sekarang pertanian. Hari ini mulai panen cabai. Di desa lain juga ada berbagai inovasi yang berkembang sesuai potensi wilayahnya,” kata Kankan.
Menurutnya, pengelolaan sampah melalui koperasi sudah berjalan cukup baik. Dari 18 RW yang ada di Desa Lengkong, sebanyak 11 RW telah terlayani oleh sistem pengelolaan sampah koperasi dan satu RW mengelola secara mandiri.
“Alhamdulillah satu bulan terakhir sudah mulai normal kembali. Sampah sudah mulai tertangani dengan baik,” ujarnya.
