Algifari mengaku mulai mempertimbangkan untuk menjual motornya dan beralih ke kendaraan yang lebih hemat bahan bakar, seperti motor matik. Meski demikian, ia berharap harga BBM dapat kembali turun atau setidaknya tidak mengalami kenaikan yang terlalu tinggi.
Kenaikan harga BBM non-subsidi tidak hanya berdampak pada biaya transportasi harian, tetapi juga memunculkan kekhawatiran bagi pengguna kendaraan dengan konsumsi bahan bakar tinggi. Bagi pemilik motor 2-Tak, lonjakan harga Pertamax menjadi tantangan baru yang memaksa mereka menghitung ulang biaya operasional kendaraan yang selama ini menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
“Ya mungkin dijual, atau cari motor yang harganya lebih murah. Inginnya ya BBM bisa turun lagi harganya, kalaupun naik jangan terlalu besar seperti sekarang. Naik Rp500 per liter masih masuk akal,” kata Algifari menutup. (Mong)
