Riset Baru Tunjukan Intervensi Padat Nutrisi Terbukti Klinis dan Ekonomis Atasi Masalah Gizi Anak

Analisis Ilmiah
Associate Professor Muh. Akbar Bahar, Ph.D., Ketua Pharmacoepidemiology Research Group (PharmaEpid-RG), Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin,
0 Komentar

Menurut Muh. Akbar Bahar, temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan nutrisi tidak seharusnya dipandang semata sebagai program bantuan pangan.

“Ketika seorang anak mendapatkan nutrisi yang memadai, manfaat yang dihasilkan jauh melampaui peningkatan berat badan atau tinggi badan. Risiko infeksi menurun, kebutuhan berobat berkurang, dan kualitas hidup anak menjadi lebih baik. Karena itu, intervensi nutrisi perlu dipandang sebagai investasi kesehatan masyarakat yang menghasilkan manfaat kesehatan dan ekonomi secara bersamaan,” ujarnya.

Dari sisi ekonomi, penelitian ini memperkirakan bahwa berkurangnya kasus penyakit dapat menghasilkan penghematan biaya pengobatan hingga Rp2,46 triliun untuk tuberkulosis (TB), Rp3,88 triliun untuk pneumonia, Rp2,40 triliun untuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan Rp3,38 triliun untuk diare.

Baca Juga:Pendaftaran Dibuka, AHM Best Student Ajak Pelajar Ubah Ide Jadi Inovasi untuk NegeriKomunitas ADV Riders Bandung (ARB) Gelar Acara Berkurban

Analisis ekonomi kesehatan juga menunjukkan bahwa intervensi ini memberikan manfaat kesehatan yang besar dengan biaya yang relatif rendah hingga 7 kali lipat dibandingkan ambang batas efektivitas biaya yang digunakan di Indonesia. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa pemberian PKMK merupakan strategi yang layak dipertimbangkan dalam upaya penanganan malnutrisi anak.

Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FSRPH, Founder and Chairman of Health Collaborative Center (HCC) menyambut positif hasil penelitian tersebut.

“Penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi nutrisi yang tepat tidak hanya berpotensi mencegah memburuknya dampak kesehatan akibat malnutrisi, tetapi juga dapat mengurangi kebutuhan biaya pengobatan di masa depan,” kata Ray.

“Bukti seperti ini penting untuk mendukung pengambilan kebijakan yang lebih berbasis data dan berorientasi pada manfaat jangka panjang bagi anak-anak Indonesia. Namun, perlu diperhatikan bahwa penggunaan PKMK untuk anak stunting dan malnutrisi harus sesuai dengan peraturan yang berlaku, yang terbukti klinis dan ekonomis untuk memastikan pemberian intevensi gizi spesifik yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak Indonesia,” sambungnya.

Hadirnya inovasi solusi nutrisi untuk masalah gizi anak telah memberikan harapan baru dalam upaya mengatasi masalah stunting di Indonesia.

“Kita juga patut berbangga kerena memiliki produk PKMK yang diproduksi di dalam negeri yaitu SGM Eksplor Gain Optigrow yang hadir dengan inovasi untuk menjawab tantangan masalah gizi anak dalam mendukung kebutuhan nutrisi anak yang berisiko gagal tumbuh, mengalami gizi kurang, atau gizi buruk, karena dirancang khusus untuk membantu kejar tumbuh anak secara optimal,”sambungnya lagi.

0 Komentar