Petani Ikan di Ciminyak KBB Kehilangan Mata Pencaharian Akibat Eceng Gondok

Hamparan eceng gondok kuasai perairan Waduk Saguling di Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, KBB. Dok Jabar
Hamparan eceng gondok kuasai perairan Waduk Saguling di Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, KBB. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Petani Keramba Jaring Apung (KJA) di kawasan Ciminyak, Kecamatan Cililin, kehilangan sumber penghasilan akibat perairan Waduk Saguling yang dipenuhi eceng gondok.

Hamparan gulma air yang menutupi hampir seluruh permukaan waduk kembali melumpuhkan aktivitas budidaya dan penangkapan ikan. Kondisi tersebut terjadi di salah satu kawasan yang menjadi bagian dari operasional PLTA Saguling.

Salah seorang petani KJA asal Desa Rancapanggung, Awang Widiati (58), mengatakan eceng gondok terus bertambah membuat seluruh kolam budidaya ikan milik warga tidak lagi dapat digunakan.

Baca Juga:Kampung Naga Ditutup Tiga Bulan, Sejumlah Destinasi Alternatif Bisa Jadi PilihanGandeng Konsorsium Korea Selatan Siapkan Nakes Indonesia Berstandar Global

“Sudah setahun belum dibersihkan. Sekarang seluruh KJA, termasuk milik saya, sudah hilang tertutup eceng. Dulu masih bisa dipakai budidaya ikan, sekarang sudah tidak ada lagi,” katanya, Kamis (4/6/2026).

Sebelum perairan dipenuhi eceng gondok, banyak warga menggantungkan hidup dari aktivitas perikanan, baik melalui budidaya ikan di KJA maupun menangkap ikan menggunakan perahu dan rakit sederhana.

Namun kini aktivitas tersebut nyaris tidak dapat dilakukan karena seluruh permukaan air tertutup rapat oleh gulma air sehingga menghambat pergerakan perahu.

“Kalau dulu warga masih bisa cari ikan pakai perahu. Sekarang perahu saja susah lewat karena permukaan waduk tertutup eceng gondok semua. Saya juga terpaksa membeli ikan dari daerah lain karena kolam budidaya sudah tidak ada,” ujarnya.

Selain berdampak terhadap sektor perikanan, keberadaan eceng gondok juga memunculkan persoalan kesehatan dan kenyamanan lingkungan bagi masyarakat sekitar.

Menurut Awang, populasi nyamuk meningkat drastis sejak permukaan waduk dipenuhi eceng gondok. Serangan nyamuk biasanya mulai terasa pada sore hingga malam hari.

“Sejak eceng gondok makin banyak, nyamuk juga bertambah. Mulai sore sampai malam sangat terasa, jadi hampir setiap hari kami harus membakar obat nyamuk,” tuturnya.

Baca Juga:Kejagung Bongkar Dugaan Korupsi Program MBG, Tiga Mantan Pejabat BGN Tersangka Usai Geledah Kantor Badan Gizi Nasional, Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Ditahan Kejagung

Untuk mengurangi gangguan tersebut, dirinya mengaku harus membakar sedikitnya empat lembar obat nyamuk setiap malam. Meski demikian, warga masih sering mengalami gatal-gatal akibat gigitan nyamuk.

Awang menuturkan kemunculan eceng gondok sebenarnya bukan hal baru di kawasan tersebut. Namun, pertumbuhannya kini dinilai semakin sulit dikendalikan karena tidak diimbangi dengan pembersihan rutin.

0 Komentar