“Kami berharap akan lahir berbagai tindak lanjut yang konkret, seperti pertukaran dosen dan mahasiswa, pengembangan kurikulum bersama, penelitian kolaboratif, program peningkatan kapasitas, serta program persiapan bahasa dan kompetensi internasional. Yang terpenting, kami ingin membangun kemitraan institusional yang berkelanjutan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi kedua negara,” tambahnya.
Menuju Double Degree dan Riset Bersama
Di sisi lain, Ketua APKESI, Dr. Pramita Iriana, S.Kp., M.Biomed., menegaskan bahwa orientasi utama kerja sama ini tetap berada pada penguatan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
“Dalam kolaborasi dengan universitas-universitas di Korea Selatan ini, 38 Poltekkes di Indonesia memiliki visi yang sama, kami ingin mengambil keuntungan akademis dari keunggulan program studi yang mereka miliki,” ucapnya.
Baca Juga:Kejagung Bongkar Dugaan Korupsi Program MBG, Tiga Mantan Pejabat BGN Tersangka Usai Geledah Kantor Badan Gizi Nasional, Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Ditahan Kejagung
“Karena kami adalah institusi pendidikan, maka fokus kolaborasinya wajib berada di ranah Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, hingga pengembangan teknologi kesehatan,” tambah Pramita.
Menurutnya, berbagai skema tengah dijajaki, mulai dari pertukaran mahasiswa, pertukaran dosen, hingga penelitian bersama antar perguruan tinggi.
“Kami sedang menjajaki skema yang matang. Kalau untuk magang mahasiswa, fokusnya harus ke fasilitas pelayanan kesehatan. Namun, kerja sama antar-universitas ini akan lebih diarahkan pada program ‘Student Exchange’ (pertukaran mahasiswa), ‘Lecturer Exchange’ (pertukaran dosen), hingga joint research. Ke depannya, kami ingin mengarah ke skema Double Degree,” lanjutnya.
“Jadi mahasiswa bisa kuliah 2 tahun di Indonesia dan 1-2 tahun di Korea, sehingga saat lulus mereka mendapatkan dua ijazah sekaligus (Indonesia dan Korea). Namun, ini memerlukan sinkronisasi kurikulum yang detail antara Kemenkes dengan pihak rektorat universitas di sana,” pungkas Pramita.
Kerja sama ini menjadi sinyal kuat bahwa pengembangan tenaga kesehatan Indonesia kini tidak lagi hanya berorientasi pada kebutuhan domestik. Dengan dukungan kurikulum internasional, sertifikasi global, dan peluang karier lintas negara, Kemenkes bersama mitra Korea Selatan berupaya menciptakan generasi tenaga kesehatan yang tidak hanya kompeten di dalam negeri, tetapi juga mampu bersaing dan berkontribusi di panggung dunia. (*)
