JABAREKSPRES – Di tengah gencarnya transisi energi nasional, perusahaan asal Jawa Tengah ini tiba-tiba menjadi sorotan. Shams Energy sukses menggarap proyek-proyek prestisius di Ibu Kota Nusantara (IKN), termasuk pemasangan solar panel di Istana Wakil Presiden dan 36 rumah menteri. Apakah ini langkah nyata menuju energi bersih, atau sekadar rebutan proyek besar di era baru? Menurut informasi resmi dari situs perusahaan, Shams Energy memasang sistem On Grid 400 kWp di Istana Wakil Presiden IKN. Tak berhenti di sana, mereka juga merampungkan solar panel 6,6 kWp per unit untuk 36 rumah menteri di Kawasan Inti Pemerintahan Pusat (KIPP) IKN. Proyek ini menjadi simbol konkret dukungan swasta terhadap program pemerintah soal energi terbarukan.
Tak hanya di IKN, portofolio Shams Energy makin gemerlap. Mereka telah menyelesaikan lebih dari 300 proyek di 10 provinsi lebih, termasuk instalasi besar di Stadion Utama Sumatera Utara (115 kWp), RS Islam Jemursari (619 kWp), Universitas Islam Indonesia UII (415 kWp), hingga pabrik industri di Lampung. Bahkan rumah-rumah selebritas seperti milik Raffi Ahmad dan Mas Anang tak luput dari sentuhan mereka.
Shams Energy gencar mempromosikan solusi On Grid, Hybrid, dan Off Grid sebagai jawaban atas tagihan listrik yang terus membengkak serta ketergantungan energi fosil. Perusahaan menjanjikan penghematan jangka panjang, pengurangan emisi, dan kemandirian energi. Namun, seperti biasa di industri renewable, pertanyaan besar tetap menggantung: berapa lama payback period-nya bagi masyarakat kelas menengah dan UMKM?
Baca Juga:Pangdam Siliwangi Ajak Reborn Indonesia Jadi Mata dan Telinga Pembangunan MPLS Pancawaluya: SMAN 1 Nagreg Bangun Fondasi Karakter Siswa Baru
Dari data yang mereka unggah, proyek-proyek komersial dan industri mendominasi. Ini menunjukkan bahwa bisnis besar dan pemerintahan lebih dulu menikmati manfaatnya, sementara rumah tangga biasa masih harus berpikir dua kali soal investasi awal yang tidak murah.
Shams Energy sendiri mengklaim punya kantor di Jabodetabek, Semarang, dan sebentar lagi Surabaya. Dengan track record yang terus bertambah, perusahaan ini tampak serius mengejar pasar solar panel yang diprediksi meledak seiring target net zero emission Indonesia.
Apakah Shams Energy akan menjadi pemain utama di era energi hijau, atau hanya salah satu dari sekian banyak kontraktor yang muncul di proyek-proyek strategis nasional? Waktu yang akan menjawab. Yang jelas, matahari terus bersinar-dan bisnis energi surya semakin panas. (bbs)
