JABAR EKSPRES – Pendidikan kesetaraan di Kota Cimahi menunjukkan tren positif. Setelah sempat dipandang sebagai pilihan kedua dibanding pendidikan formal, kini Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) justru semakin diminati masyarakat dan menjadi jalur pendidikan yang mampu melahirkan berbagai prestasi serta kreativitas peserta didik.
Perubahan persepsi tersebut terlihat dalam pelaksanaan Gebyar Peserta Didik Pendidikan Kesetaraan (Pesdiktara) 2026, yang menjadi wadah bagi peserta didik dari berbagai PKBM dan SKB untuk menampilkan kemampuan, bakat, serta karya terbaik mereka.
Kegiatan itu sekaligus menjadi gambaran bahwa pendidikan non formal di Kota Cimahi terus berkembang dan mampu berdiri sejajar dengan pendidikan formal. Tidak hanya menjadi solusi bagi masyarakat yang membutuhkan fleksibilitas belajar, pendidikan kesetaraan kini juga menjadi ruang lahirnya generasi produktif yang tetap dapat mengembangkan potensi diri di tengah berbagai keterbatasan.
Baca Juga:Pertamina Perkuat Ketahanan Energi Bali, Dewan Komisaris Tinjau IT ManggisBupati Cecep Ajak Warga Viralkan Truk ODOL, Pemkab Tasikmalaya Perketat Pengawasan Demi Jalan Tahan Lama
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Pemkesra) Sekretariat Daerah Kota Cimahi, Hendra Gunawan, mengatakan perkembangan tersebut merupakan hasil kolaborasi yang dibangun antara Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Cimahi bersama seluruh pengelola PKBM dan SKB.
Menurutnya, tingginya partisipasi peserta dalam Gebyar Pesdiktara 2026 menjadi indikator kuat bahwa pandangan masyarakat terhadap pendidikan kesetaraan telah berubah ke arah yang lebih positif.
“Dulu kondisinya sangat berbeda dan sempat muncul pertanyaan mengenai masa depan PKBM. Tetapi, dalam empat tahun terakhir terjadi perubahan yang luar biasa. Saat ini tidak ada lagi sekat antara pendidikan formal dan non formal karena keduanya menjadi pilihan yang sama-sama memiliki nilai dan kesempatan yang setara,” ujar Hendra saat ditemui di Alam Wisata Cimahi (AWC), Rabu (3/6/2026).
Ia menilai masyarakat kini semakin terbuka dalam menentukan jalur pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing. Tidak sedikit peserta didik yang memilih pendidikan kesetaraan karena dapat tetap melanjutkan pendidikan sambil bekerja untuk membantu perekonomian keluarga.
Fenomena tersebut, menurutnya, menjadi salah satu bukti bahwa pendidikan kesetaraan mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang memerlukan akses pendidikan lebih fleksibel tanpa mengorbankan kesempatan untuk memperoleh ilmu dan keterampilan.
