JABAR EKSPRES – Destinasi wisata adat yang selama ini menjadi ikon budaya Sunda, Kampung Naga di Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, resmi menutup diri dari kunjungan wisatawan mulai 1 Juni hingga akhir Agustus 2026. Penutupan sementara selama tiga bulan tersebut dilakukan untuk memberi ruang bagi pemulihan ekosistem serta revitalisasi kawasan adat secara menyeluruh.
Kebijakan yang cukup langka ini ternyata berawal dari gagasan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat berkunjung ke Kampung Naga pada 4 Mei 2026 lalu.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbid) Kabupaten Tasikmalaya, Asep Zaini A, menjelaskan bahwa usulan tersebut muncul dalam dialog langsung antara Gubernur yang akrab disapa KDM dengan Abah selaku Ketua Adat Kampung Naga.
Baca Juga:ART di Cileungsi Tewas Diduga Disiksa Rekan Kerja, Tubuh Korban Disiram Air Panas BergantianJalan Kasep Digeber, Pemkab Tasikmalaya Targetkan Dua Tahun Lagi Seluruh Jalan Mulus
“Setelah menghadiri Milangkala Tatar Sunda di Kabupaten Tasikmalaya, Pak Gubernur langsung mengunjungi Kampung Naga. Dalam pertemuan itu muncul kesepakatan bersama untuk mengistirahatkan kawasan adat selama beberapa bulan,” ujar Asep saat dikonfirmasi Selasa (2/6/2026).
Menurutnya, penutupan sementara bukan sekadar menghentikan aktivitas wisata, melainkan langkah strategis untuk mengembalikan keseimbangan lingkungan dan menjaga keberlanjutan kawasan adat yang selama ini menjadi daya tarik wisata budaya nasional.
“Penutupan sementara menjadi langkah strategis untuk pemulihan ekosistem. Ini juga untuk revitalisasi kawasan adat,” katanya.
Selama masa sterilisasi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tasikmalaya menyatakan siap mendukung rehabilitasi lingkungan dan perbaikan sarana pendukung kawasan. Namun seluruh proses akan dilakukan dengan tetap menghormati tata ruang adat serta kearifan lokal yang berlaku di Kampung Naga.
Tak hanya fokus pada aspek lingkungan, pemerintah juga memastikan roda perekonomian masyarakat adat tetap berjalan meski kunjungan wisata dihentikan sementara.Asep menjelaskan, masa jeda ini juga akan dimanfaatkan untuk menyusun arah baru pengembangan wisata Kampung Naga yang lebih menitikberatkan pada edukasi dan literasi budaya.
Setidaknya terdapat lima langkah yang tengah disiapkan pemerintah. Mulai dari pengembangan program edukasi budaya dan lingkungan berbasis kearifan lokal, penyediaan pusat informasi dan materi edukatif bagi pengunjung, kerja sama dengan sekolah dan perguruan tinggi untuk kegiatan penelitian, digitalisasi budaya serta pengarsipan pengetahuan lokal, hingga pelatihan masyarakat sebagai pemandu wisata edukatif yang profesional.
