Tiket Monster Pabrik Rambut Sold Out di Bandung, Horor Baru Karya Edwin Angkat Teror Overwork dan Kurang Tidur

Tiket Monster Pabrik Rambut Sold Out di Bandung, Horor Baru Karya Edwin Angkat Teror Overwork dan Kurang Tidur
Tiket Monster Pabrik Rambut Sold Out di Bandung, Horor Baru Karya Edwin Angkat Teror Overwork dan Kurang Tidur
0 Komentar

JABAR EKSPRES — Antusiasme publik terhadap film horor terbaru karya sutradara Edwin semakin terlihat jelang penayangan resminya. Setelah sukses menggelar special screening di Yogyakarta dan Jakarta, film Monster Pabrik Rambut kembali mendapat sambutan luar biasa saat hadir di Bandung.

Agenda pra-tayang yang berlangsung di Braga XXI, Senin 25 Mei 2026, bahkan langsung sold out dalam waktu singkat. Tingginya minat penonton menunjukkan bahwa film produksi Palari Films tersebut berhasil memancing rasa penasaran publik, terutama karena mengangkat isu yang dekat dengan kehidupan masyarakat pekerja saat ini.

Bukan sekadar menyajikan horor penuh teriakan dan jumpscare, Monster Pabrik Rambut menawarkan ketegangan psikologis yang lahir dari realita kelelahan kerja, lembur berlebihan, hingga kurang tidur yang kerap dialami buruh maupun pekerja kantoran.

Baca Juga:Konsisten Perluas LayananQRIS, bank bjb Raih Penghargaan DIGIWARA 2026 Honda Daya Jayadi Racing Team Cetak Prestasi di Astra Honda Dream Cup 2026

Sebelum menyambangi Bandung, film ini lebih dulu mencuri perhatian lewat rangkaian pemutaran di Yogyakarta dan Jakarta. Bahkan, perjalanan internasionalnya dimulai melalui world premiere di Berlin International Film Festival 2026 sebelum melanjutkan partisipasi di Hong Kong International Film Festival (HKIFF) 2026.

Dalam sesi diskusi setelah pemutaran film, para pemeran utama seperti Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, hingga Kev membahas pesan kuat yang ingin disampaikan film tersebut.

“Relatability film ini bagi kalangan pekerja sangat kuat, mulai dari isu kelelahan kronis akibat lembur hingga masalah kurang tidur. Hal ini relevan bagi buruh pabrik maupun karyawan kantor. Saya berharap karya ini mampu menginisiasi dialog mengenai urgensi lingkungan kerja yang lebih sehat,” ungkap Rachel Amanda, Senin (25/5/2026).

Senada dengan itu, Lutesha menilai kondisi overwork yang diangkat dalam film bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

“Sangat memprihatinkan melihat bagaimana keterbatasan pilihan sering kali memaksa seseorang terperangkap dalam pekerjaan yang mengancam kesehatan. Situasi itulah yang sangat dekat dengan keseharian masyarakat kita,” ujarnya.

Sementara itu, Iqbaal Ramadhan yang juga terlibat sebagai produser eksekutif menjelaskan bahwa Monster Pabrik Rambut menghadirkan pendekatan horor retro yang berbeda dari kebanyakan film masa kini.

“Sumber ketakutan dalam film ini berakar pada atmosfer pabrik dan kehadiran monster di dalam ceritanya. Penggunaan practical effect untuk menghidupkan sosok monster memberikan pengalaman unik bagi generasi Z seperti saya, karena prosesnya mengingatkan pada estetika produksi film horor era 80-an dan 90-an,” ujar Iqbaal Ramadhan.

0 Komentar