JABAR EKSPRES — Perum Bulog Wilayah Jawa Barat mengajak para tengkulak bergabung dalam ekosistem penyerapan gabah dengan mengubah peran mereka menjadi transporter.
Langkah itu dilakukan agar proses penyerapan gabah di tingkat petani tetap berjalan tanpa merugikan pihak perantara.
Direktur Utama Bulog Jawa Barat, Ahmad Rizal Ramdhani, mengatakan gabah yang diserap Bulog harus sudah memasuki usia panen.
Baca Juga:PGN Garap Studi Ekosistem CCS dan Transportasi CO₂, Dukung Pengembangan Amonia Rendah KarbonDampingi Prabowo Panen Raya, Ahmad Luthfi Sebut Budidaya Udang Memiliki Prospek Bagus
Ia menegaskan Bulog tidak menginginkan gabah dipanen terlalu dini karena akan mempengaruhi kualitas hasil panen.
“Dengan kondisi any quality, tapi harus tetap dalam usia panen. Jangan belum usia panen sudah dipanen karena nanti terlalu muda,” kata Ahmad saat ditemui di Gudang Bulog Utama Kota Cimahi, Sabtu, 23 Mei 2026.
Menurut Ahmad, Bulog kini mendorong tengkulak di Jawa Barat untuk ikut masuk dalam sistem penyerapan gabah yang dikelola Bulog.
Dalam skema itu, para tengkulak tidak lagi berperan sebagai pembeli utama gabah dari petani, melainkan menjadi pengangkut hasil panen menuju penggilingan mitra Bulog.
Bulog membeli gabah kering panen seharga Rp6.500 per kilogram langsung di area persawahan. Setelah itu, para tengkulak bertugas mengirim gabah ke penggilingan mitra dan memperoleh kompensasi Rp200 per kilogram.
“Sekarang tengkulak kami jadikan bagian dari transporter. Jadi setelah gabah dibeli Bulog di pinggir sawah, tugas mereka mengangkut ke penggilingan mitra Bulog,” ujar Ahmad.
Ia menilai pola tersebut tetap memberikan keuntungan bagi tengkulak sekaligus menjaga stabilitas penyerapan gabah di lapangan. Menurut dia, perubahan peran itu diharapkan tidak mengganggu rantai distribusi beras nasional yang sedang dibangun Bulog.
Baca Juga:Indonesia Bidik Pasar Amerika Latin, Ekspor Nonmigas ke Meksiko Terus DiperkuatFokus Tekan Risiko Kecelakaan KA, Prabowo Gelontorkan Rp4 Triliun untuk Perlintasan dan Flyover
“Cukup menguntungkan untuk tengkulak yang bertransformasi menjadi transporter sehingga tidak mengganggu proses penyerapan dalam ekosistem beras Bulog,” kata dia.
Selain membahas penyerapan gabah, Ahmad juga menyinggung kesiapan Bulog menghadapi kondisi surplus beras dan swasembada pangan. Ia mengatakan Bulog kini bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN untuk mengembangkan teknologi penyimpanan beras jangka panjang.
Menurut dia, teknologi pergudangan yang tengah disiapkan memungkinkan beras disimpan lebih dari dua tahun tanpa mengalami penurunan kualitas signifikan.
