RSUD Otista Soreang Minta Maaf Usai Viral Dugaan Penolakan Pasien IGD, Akui Kondisi Sedang Penuh

RSUD Otista Soreang Minta Maaf Usai Viral Dugaan Penolakan Pasien IGD, Akui Kondisi Sedang Penuh. Foto Agni Il
RSUD Otista Soreang Minta Maaf Usai Viral Dugaan Penolakan Pasien IGD, Akui Kondisi Sedang Penuh. Foto Agni Ilman Darmawan
0 Komentar

Jabar Ekspres – Manajemen RSUD Otto Iskandar Dinata Soreang akhirnya buka suara terkait video viral di media sosial yang menyoroti pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit tersebut.

Direktur Utama RSUD Otista, Yuli Irnawaty Mosjasari menyampaikan permohonan maaf kepada pasien, keluarga, dan masyarakat atas ketidaknyamanan yang terjadi saat insiden itu berlangsung pada Selasa (19/5).

“Terkait dengan video yang kemarin viral, kami mohon maaf atas ketidaknyamanan kepada pasien, keluarga, maupun masyarakat,” ujar Yuli pada Kamis (21/5/2026).

Baca Juga:Remaja 18 Tahun Curi Kabel di Ciseeng Bogor, Sempat Dihajar Massa Sebelum DimediasiDidatangkan dari Bima NTB, Sapi Kurban di Cibinong Bogor Dibanderol Rp15 Juta hingga Rp45 Juta

Ia menjelaskan, saat kejadian kondisi IGD sedang dipenuhi pasien sehingga terjadi penumpukan. Menurutnya, tenaga medis saat itu harus melakukan penanganan berdasarkan tingkat kegawatdaruratan pasien.

“Karena pada saat itu memang di IGD kami kondisi pasien yang sangat banyak sehingga menumpuk pasien penuh. Sesuai dengan kegawatdaruratan, kami harus melakukan prioritas dalam penanganan pasien,” katanya.

Yuli mengaku memahami kecemasan keluarga pasien yang datang ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan cepat. Namun di sisi lain, tenaga kesehatan harus memprioritaskan pasien dengan kondisi paling kritis.

“Pada saat itu kami sangat memahami bahwa pasien ataupun keluarga yang bersangkutan pastinya cemas dengan keadaan penyakitnya. Tapi kami para nakes memang harus melaksanakan prioritas tadi sehingga pasti ada waktu untuk menunggu,” jelasnya.

Ia menerangkan, sebelum pasien dalam video tersebut datang, terdapat dua pasien lain dengan kondisi gawat darurat yang membutuhkan penanganan intensif serta penggunaan banyak peralatan medis. Hal itu membuat tenaga medis terfokus pada dua pasien tersebut.

“Karena ada datang dua pasien sebelumnya yang memang gawat darurat, penanganannya juga harus menggunakan banyak peralatan sehingga tenaga kami terkonsentrasi kepada yang gawat darurat tersebut sehingga pasien yang datang menjadi menunggu,” ucapnya.

Meski demikian, pihak rumah sakit mengakui tingginya jumlah pasien yang datang menjadi tantangan tersendiri. Yuli menilai kondisi tersebut sekaligus menjadi bentuk kepercayaan masyarakat terhadap layanan RSUD Otista.

Baca Juga:Pemkab Tasikmalaya Resmi Luncurkan KURDA Nol Persen, Solusi Modal Usaha Tanpa BungaAnaknya Mau Masuk SD, Puluhan Orang Tua Murid TK Mutiara Bunda Belajar Parenting

“Hal itu kami sadari adalah suatu kepercayaan sebetulnya kepada rumah sakit ini, mereka memilih datang ke IGD,” katanya.

0 Komentar