JABAR EKSPRES – Sebanyak 32 warga di dua kampung wilayah Desa Celak, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat (KBB), terdampak bencana pergerakan tanah.
Peristiwa tersebut mengakibatkan empat rumah warga mengalami kerusakan setelah tanah di kawasan itu bergeser sekitar 5 hingga 7 sentimeter.
Camat Gununghalu, Asep Haris Kosaman, mengatakan bencana pergerakan tanah terjadi di Kampung Legok RT02/RW04 dan Kampung Negla RT03/RW04. Akibat kejadian itu, sejumlah bangunan rumah mengalami retakan pada bagian dinding dan lantai.
Baca Juga:Jateng Dinilai Paling Siap dalam Mendukung Program 3 Juta RumahDigitalisasi Arsip Jadi Tantangan Serius, FISIP Unpas Siapkan Mahasiswa Hadapi Era AI dan Paperless
“Bencana pergerakan tanah itu terjadi pada 14 Mei 2026 dan menimbulkan kekhawatiran bagi warga yang tinggal di area rawan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (19/5/2026).
Ia menjelaskan, peristiwa tersebut diduga dipicu tingginya intensitas curah hujan yang mengguyur wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir.
Selain faktor cuaca, kondisi geografis permukiman yang berada di lereng dengan struktur tanah labil juga menjadi penyebab utama terjadinya pergeseran tanah.
“Curah hujan yang cukup tinggi menjadi salah satu pemicu. Selain itu, lokasi permukiman berada di area berkontur miring dengan kondisi tanah yang labil, sehingga mudah terjadi pergeseran ketika hujan terus turun,” katanya.
Berdasarkan hasil pendataan sementara, terdapat empat rumah yang mengalami kerusakan cukup signifikan akibat pergerakan tanah. Kerusakan terlihat pada retakan dinding, lantai yang bergeser, hingga beberapa bagian rumah yang dinilai berisiko jika terus ditempati.
Meski demikian, kondisi warga terdampak disebut masih kondusif. Sebagian warga yang rumahnya berada di titik paling rawan untuk sementara telah diminta mengungsi atau berpindah ke tempat yang lebih aman guna mengantisipasi potensi pergerakan susulan.
“Sebagian rumah yang rawan sudah tidak ditempati. Kami juga terus mengimbau masyarakat agar tetap waspada, apalagi jika hujan turun kembali dengan intensitas tinggi,” ujar Asep.
Baca Juga:Bandoeng 10K Jadi Motor Sport Tourism, Farhan Sebut Bagian Strategi Pembangunan Kota BandungPemkab Tasikmalaya Jajaki Kerjasama Pembangunan Dua Rumah Sakit
Pihak kecamatan bersama aparat desa telah melakukan sosialisasi kepada warga terkait langkah antisipasi, termasuk larangan mendirikan bangunan baru di area yang dinilai rawan pergerakan tanah.
Warga terdampak juga diarahkan untuk menempati lokasi sementara yang lebih aman sambil menunggu penanganan lebih lanjut.
