Pengabdian Masyarakat: SITH ITB Latih Warga Bangkes Kembangkan Cabai Jamu

SITH ITB
BUDIDAYA CABAI: Praktik pembibitan cabai jamu di Balai Desa Bangkes, Kecamatan Kadur, Pamekasan, Sabtu (16/5/2026). Tim Pengabdian Masyarakat SITH ITB melatih warga setempat dalam program pemberdayaan budidaya cabai jamu berbasis pertanian ekologis. (ISTIMEWA)
0 Komentar

PAMEKASAN – Tim Pengabdian Masyarakat Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil melaksanakan program pemberdayaan masyarakat di Desa Bangkes, Kecamatan Kadur, Kabupaten Pamekasan.

Program ini difokuskan pada pengembangan budidaya dan pascapanen cabe jamu (Piper retrofractum Vahl.) sebagai komoditas herbal bernilai ekonomi tinggi.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 15–16 Mei 2026, mengusung tema “Teknologi Tepat Guna dalam Pengembangan Cabai Jamu Berbasis Pertanian Ekologis dan Pascapanen Berkelanjutan”.

Baca Juga:Seleksi Banteng Jabar Dimulai, 214 Pemain Berebut Tempat di Soekarno Cup 2026Hadiri Rakernas SOKSI, KDM Soroti Kemiskinan Karyawan Perkebunan Jabar

Seluruh kegiatan didanai penuh oleh Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB.

Hari Pertama: Peningkatan Kapasitas melalui Edukasi Komprehensif

Pada Jumat (15/5/2026), peserta mengikuti pemaparan materi secara mendalam mengenai seluruh rantai produksi cabai jamu, mulai dari hulu hingga hilir. Beberapa narasumber kompeten hadir memberikan materi sebagai berikut:

  • Dr. Nita Yuniati menyampaikan teknik pembibitan unggul guna meningkatkan tingkat keberhasilan budidaya.
  • Dr. Chindy Ullima Zaneta mengenalkan pembuatan pupuk organik cair dari limbah rumah tangga sebagai bentuk penerapan pertanian ekologis yang berkelanjutan.
  • Prof. Muhammad Djali dari Universitas Padjadjaran membahas teknik pengeringan pascapanen yang tepat untuk mempertahankan kualitas dan kandungan senyawa aktif cabai jamu.
  • Dr. Rika Wahyuningtyas memberikan pelatihan pengolahan cabai jamu menjadi bubuk serta teknik pengemasan produk herbal kesehatan yang bernilai tambah.

Hari Kedua: Praktik Lapangan dan Pembentukan Kelembagaan

Pada Sabtu (16/5/2026), kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung di lapangan. Warga Desa Bangkes mempraktikkan perbanyakan tanaman melalui stek batang, pembuatan pupuk organik cair, serta uji coba pengeringan cabai jamu menggunakan rumah plastik.

Sebagai upaya menjamin keberlanjutan program, pada hari tersebut juga dibentuk dua kelompok kerja strategis, yaitu Kelompok Pupuk Cair dan Pengeringan cabai Jawa, serta cikal bakal Kelompok Wanita Tani (KWT) yang akan fokus pada pengolahan produk turunan dan pemasaran.

Salah seorang peserta, Aminollah, menyampaikan kesan positif terhadap kegiatan tersebut. “Alhamdulillah, pelatihan ini sangat bermanfaat. Materi yang disampaikan jelas, sistematis, dan dapat diterapkan langsung di lapangan. Saya menjadi lebih memahami mengapa cabai jamu memiliki nilai ekonomi tinggi, namun kerap mengalami kegagalan jika tidak menggunakan teknik yang tepat,” ujarnya.

0 Komentar