Prahara Tasykil Pemuda Persis: Ketua Umum Terpilih Dinilai Gagal Lulus Ujian Pertama

Pemuda Persis
Riuh interupsi mewarnai jalannya sidang Muktamar XIV Pemuda Persis, baru-baru ini.(Dok Persisphotography)
0 Komentar

Karena itu, kegagalan dalam menyusun struktur akan berdampak langsung pada efektivitas kepemimpinan ke depan.

Bagaimana berbicara penguatan kaderisasi jika bidang kaderisasi sejak awal sudah kehilangan personel?

Bagaimana bicara penguatan ekonomi umat jika ketua bidang ekonomi justru mundur?

Baca Juga:Universitas BTH Siapkan Generasi Masa DepanKampus Indonesia-Malaysia Menanam Harapan tentang Kota Hijau 

Bagaimana memastikan ritme organisasi berjalan normal jika posisi Sekretaris Umum sebagai pusat administrasi malah kosong di awal periode?

“Kalau fondasi awalnya sudah rapuh, organisasi berisiko sibuk mengurus konflik internal ketimbang bergerak mengurus umat,” ujar Muhammad Syahid.

Ia menilai Ketua Umum terpilih tidak cukup hanya mengganti nama yang mundur. Sebab persoalan utamanya bukan pada kursi kosong, melainkan proses penyusunan tasykil yang dianggap gagal membangun kepercayaan.

Menurut Syahid, kepemimpinan baru perlu melakukan evaluasi terbuka terhadap proses konsolidasi pasca-Muktamar. Sebab semakin lama persoalan itu dianggap biasa, semakin besar potensi krisis kepercayaan di internal organisasi.

“Ketua umum harus berani mengevaluasi cara komunikasi dan proses konsolidasinya. Karena yang dipertaruhkan sekarang bukan sekadar struktur, tetapi wibawa kepemimpinan,” kata dia.

Prahara tasykil ini menjadi sinyal awal bahwa kepemimpinan baru Pemuda Persis sedang menghadapi ujian serius. Dan ujian itu datang bukan dari luar organisasi, melainkan dari lingkar terdekat kepengurusannya sendiri.

Muktamar memang telah selesai.

Tetapi bagi Ketua Umum terpilih, ujian sebenarnya baru dimulai.

Dan pada ujian pertama itu, kepemimpinan baru tampaknya belum berhasil meyakinkan organisasinya sendiri.***

0 Komentar