Di balik semua pencapaian itu, ada sosok perempuan setia yang selalu mendampingi: Asri Wiraningsih, serta dua putri mereka, Alfia Tasya Karisa dan Adelia Naila Karisa. Dukungan keluarga menjadi pondasi kuat di setiap langkah kariernya.Pada 31 Juli 2025, melalui Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/1001/VII/2025, Mayjen Kosasih dilantik sebagai Panglima Kodam III/Siliwangi ke-47.
Ia menggantikan pendahulunya dan mengikuti jejak R.A. Kosasih sebagai Pangdam ke-7 di masa lalu. Penunjukan ini terasa seperti “kepulangan” ke tanah leluhur, karena ia pernah menjabat DANREM 062/Tarumanegara di wilayah yang sama.
Kini, di Tanah Siliwangi yang kental dengan falsafah Sunda Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh, Silih Wawangi, Mayjen Kosasih hadir dengan gelar yang melekat di hati banyak orang: Jenderal Santri. Latar belakangnya sebagai anak pesantren Banten, kebiasaan marbot masjid, dan nilai-nilai keislaman yang dipegang teguh tak pernah pudar meski mengenakan seragam loreng.
Baca Juga:Wawan Cobra, Senior Legendaris Menwa Jabar Berpulang ke RahmatullahRUU Migas Digodok Buru-Buru, PWYP: Prosedur Cacat & Tak Selaras Transisi Energi
Ia dikenal tegas tapi santun, disiplin tapi rendah hati, berwibawa tapi dekat dengan rakyat. Gaya kepemimpinannya membumi: lebih banyak mendengar daripada berbicara, mendekatkan TNI dengan ulama, tokoh agama, pimpinan pesantren, pemuda, budayawan, dan masyarakat luas. Bagi Kosasih, jabatan bukan sekadar pangkat atau kekuasaan. “Jabatanku adalah ibadahku,” katanya tegas.
Ia juga sering mengingat hadis Nabi Muhammad SAW. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya,” katanya mengutip hadis itu. Sebagai Pangdam III/Siliwangi, ia bertanggung jawab menjaga stabilitas keamanan Jawa Barat dan Banten-wilayah dengan kompleksitas sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang tinggi. Pendekatannya menggabungkan ketegasan militer dengan kelembutan hati santri, profesionalisme modern yang tak meninggalkan akar religius dan kearifan lokal.
Ia mendorong sinergi TNI dengan pemerintah daerah, aparat penegak hukum, tokoh masyarakat, serta komunitas keagamaan sebagai pilar ketahanan nasional. Dari anak desa yang menjual pasir dan es Mambo, dari marbot masjid yang terenyuh melihat arogansi seorang tentara, hingga menjadi Pangdam yang memimpin salah satu Kodam paling bersejarah di Indonesia.
