SD kelas V dihabiskan di kampung halaman, sisanya di Jakarta mengikuti orang tua. Sejak SMP, kehidupannya sudah penuh perjuangan. Pagi-pagi sebelum sekolah, ia jadi kuli di Toko Bangunan PD Dua Saudara, jualan es Mambo, dan teka-teki silang (TTS). Sore hingga malam, ia menjadi marbot masjid. Ayahnya guru mengaji, ibunya ibu rumah tangga sederhana. Ekonomi keluarga pas-pasan, tapi disiplin dan keikhlasan diajarkan sejak dini. “Kehidupan keras itu yang membentuk saya,” ujar Kosasih.
Disiplin kerja keras dan keikhlasan membantu menjadi ciri khasnya kelak sebagai prajurit. Tanpa sepengetahuan orang tua, Kosasih mendaftar calon taruna secara diam-diam. Ia mengisi formulir sendiri, bahkan menandatangani kolom persetujuan ayah dengan tangannya sendiri karena khawatir tak diizinkan.
Baru setelah lulus seleksi awal dan dipanggil ke Magelang, ia memberanikan diri memberitahu kedua orang tuanya. “Saya akan ikut seleksi AKABRI Tingkat Pusat,” kata Kosasih di hadapan orang tuanya kala itu.
Baca Juga:Wawan Cobra, Senior Legendaris Menwa Jabar Berpulang ke RahmatullahRUU Migas Digodok Buru-Buru, PWYP: Prosedur Cacat & Tak Selaras Transisi Energi
Ia lulus Tahun 1993, Kosasih menyandang pangkat Letnan Dua setelah tamat Akademi Militer (AKMIL) Magelang, kecabangan Infanteri. Pendidikannya tak berhenti. Sarjana Ekonomi (S.E.) diraih tahun 1999, Magister Manajemen (M.M.) baru diselesaikan tahun 2025. Pendidikan militer pun panjang: SESSARCAB Infanteri (1994), SUSLAPA Infanteri (2000), SESKOAD (2007), SESKO TNI (2018), hingga LEMHANNAS RI (2021). Ditambah kursus spesialis seperti sniper, counter terrorism, bahasa Perancis, hingga auditor.
Lebih dari tiga dekade pengabdian, Mayjen Kosasih meniti karier dari bawah dengan keringat dan akhlak. Pernah berdinas mengawal Presiden dan Wakil Presiden di Istana Kepresidenan (2001–2007), DANREM 062/Tarumanegara Kodam III/Siliwangi, Kepala Biro Kepegawaian Setjen Kemhan, Staf Ahli Menteri Pertahanan Bidang Keamanan, hingga Sekretariat Militer Presiden.
Penugasan operasinya tak ringan: Operasi Timtim, Irian, Ekspedisi NKRI di Sulawesi, Maluku, dan Maluku Utara. Di kancah internasional, ia pernah OJT di Korea Selatan, pengamanan VVIP di berbagai negara seperti Polandia, Uni Emirat Arab, Sudan, Yaman, Saudi Arabia, Qatar, Australia, China, Rusia, Prancis, Inggris, hingga Mesir.
Sepanjang pengabdian, ia meraih puluhan tanda kehormatan negara, di antaranya Bintang Yudha Dharma Pratama, Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, Bintang Bhayangkara Pratama, serta berbagai Satyalancana Kesetiaan hingga 32 tahun.
