Di sisi lain, Polandia menawarkan berbagai komoditas unggulan seperti daging sapi, produk susu, gandum, hingga buah berry.
Namun Indonesia tetap menekankan standar ketat, mulai dari aspek kesehatan hingga sertifikasi veteriner, sebagai syarat utama sebelum membuka akses impor.
Pendekatan selektif ini menunjukkan bahwa Indonesia berusaha menyeimbangkan kebutuhan pasar dengan perlindungan terhadap produksi dalam negeri, terutama untuk komoditas sensitif seperti unggas.
Baca Juga:Terhimpit Ekonomi, Wanita di Singaparna Nekat Rampas Gelang Emas TetangganyaPergeseran Tanah Terjang Babakan Madang, 7 Rumah Rusak dan 28 Warga Mengungsi
Sudaryono menekankan sektor pertanian memiliki dimensi strategis yang jauh melampaui perdagangan semata, karena berkaitan langsung dengan ketersediaan pangan masyarakat.
“Terutama agrikultur yang sangat penting, karena agrikultur artinya makanan, bagaimana kita bisa mengamankan makanan kita untuk Indonesia, dan juga bagaimana negara lain, seperti Polandia juga bisa menjaga makanan mereka untuk mereka sendiri,” tegasnya.
Kedua negara sepakat untuk memperkuat kerja sama melalui pembentukan kelompok kerja teknis untuk mempercepat penyelesaian berbagai protocol perdagangan, termasuk untuk komoditas daging sapi dan produk susu.
Langkah tersebut diharapkan bisa mempercepat proses audit, penyelarasan standar, serta implementasi perdagangan secara langsung setelah persyaratan terpenuhi.
Tak hanya itu, kolaborasi juga akan diperluas ke sektor investasi dan pertemuan pelaku usaha, membuka peluang kemitraan jangka panjang yang lebih luas.
Polandia sendiri melihat Indonesia sebagai mitra strategis di Asia, sementara posisinya di Eropa memberikan keuntungan sebagai pintu masuk ke pasar Uni Eropa.
Kombinasi ini dinilai dapat menciptakan hubungan yang saling melengkapi.
Ke depan, kerja sama ini diharapkan tidak hanya meningkatkan volume perdagangan, tetapi juga membangun sistem pertanian yang lebih berkelanjutan dan tahan terhadap krisis global yang semakin kompleks.
