JABAR EKSPRES – Persiapan kontingen National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kabupaten Bandung Barat menuju Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) VII Jawa Barat 2026 belum sepenuhnya berjalan mulus.
Meski 74 atlet lolos klasifikasi final, ketidakjelasan anggaran hibah masih menjadi hambatan utama yang dinilai berpotensi mengganggu program latihan dan persiapan menuju ajang olahraga disabilitas tingkat Jawa Barat tersebut.
Wakil Sekretaris Umum NPCI Kabupaten Bandung Barat, Acep Kurnia, mengatakan sebanyak 74 dari total 81 atlet yang mengikuti proses klasifikasi resmi dinyatakan lolos dengan status final. Sementara dua atlet masih harus menjalani pemeriksaan lanjutan di Rumah Sakit Mata Cicendo dan tujuh atlet lainnya dinyatakan tidak memenuhi syarat kelas.
Baca Juga:Mengharumkan Kota Hujan: Atlet Disabilitas Bogor Sabet 2 Emas dan 1 Perak di Peparda Jabar 2025NPCI Bandung Sebut Ratusan Atlet Masuk Pelatcab untuk Peparda 2026
“Alhamdulillah sebagian besar atlet kami sudah mendapatkan status klasifikasi final. Ada dua atlet yang masih menjalani pemeriksaan lanjutan di RS Mata Cicendo, sedangkan tujuh atlet lainnya belum memenuhi syarat kelas berdasarkan hasil klasifikasi,” kata Acep, Minggu (19/7/2026).
Menurut Acep, persiapan menuju Peparda tahun ini juga dipengaruhi perubahan regulasi klasifikasi yang diterapkan NPC Indonesia. Aturan baru tersebut membuat sejumlah atlet harus berpindah nomor pertandingan, kelas, bahkan cabang olahraga.
“Perubahan regulasi ini membuat kami harus menyusun ulang strategi. Ada atlet yang harus berpindah kelas maupun nomor pertandingan sehingga pola pembinaan juga ikut disesuaikan,” ujarnya.
Di tengah tantangan tersebut, NPCI KBB justru mencatat peningkatan jumlah cabang olahraga yang akan diikuti. Jika pada Peparda sebelumnya hanya mengirimkan sembilan cabang olahraga, kali ini KBB akan tampil di 15 cabang dari 17 cabang yang dipertandingkan.
Namun, menurut Acep, peningkatan tersebut belum diimbangi dengan dukungan anggaran dan sarana latihan yang memadai. Hingga kini kepastian dana hibah belum diterima sehingga jadwal latihan sejumlah cabang olahraga kerap mengalami kendala.
“Yang menjadi persoalan utama saat ini adalah belum adanya kepastian anggaran hibah. Akibatnya, beberapa program latihan tidak bisa berjalan maksimal karena harus menyesuaikan kondisi keuangan yang ada,” katanya.
Ia menambahkan, NPCI KBB juga belum memiliki fasilitas olahraga sendiri sehingga seluruh aktivitas latihan masih mengandalkan tempat sewaan dengan biaya yang cukup besar. Kondisi itu paling dirasakan cabang balap sepeda yang belum memiliki sepeda balap tunggal maupun sepeda tandem bagi atlet tunanetra.
