Terjepit Gejolak Global, Sentra Rajut Binong Jati Bertahan di Tengah Kenaikan Harga Benang

Terjepit Gejolak Global, Sentra Rajut Binong Jati Bertahan di Tengah Kenaikan Harga Benang
Pekerja menyelesaikan produksi pakaian rajut di Sentra Rajut Binong Jati, Bandung, Jawa Barat, Kamis (16/4/2026). Menurut pengusaha, harga benang mengalami kenaikan dari Rp86.500 menjadi Rp94.500 per kilogram atau naik Rp8.000 sejak Maret hingga saat ini. Kenaikan benang akrilik berdampak pada naiknya harga pokok produksi sekitar 8 hingga 10 persen, sehingga harga jual ke konsumen ikut disesuaikan akibat konflik Timur Tengah. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Di balik deretan toko dan rumah produksi yang berjajar di kawasan Binong Jati, Kota Bandung, denyut industri rajut lokal masih bertahan. Namun belakangan, geliat tersebut tak lagi seramai biasanya. Para pelaku usaha kini dihadapkan pada tekanan yang datang bukan hanya dari pasar, tetapi juga dari gejolak global yang turut memengaruhi harga bahan baku.

Salah satu pelaku usaha rajut, Sandi Suryan, pemilik Rajutan Pananing, merasakan langsung dampak tersebut. Ia menyebutkan bahwa kenaikan harga benang, khususnya jenis akrilik, mulai terasa sejak menjelang Lebaran tahun ini dan terus berlanjut setelahnya.

“Kenaikan terjadi sejak sebelum Lebaran sampai setelah Lebaran, total sudah tiga kali kenaikan,” ujarnya kepada Jabar Ekspres, Kamis (16/4/2026).

Baca Juga:Jembatan Penghubung di Rumpin-Bogor Ambruk, Warga Terpaksa Gunakan Jembatan GantungPersepsi Pasar pada Ekonomi RI Membaik Karena Hal Ini?

Benang akrilik merek Kahatex yang biasa ia gunakan mengalami lonjakan harga dari Rp86.500 menjadi Rp94.500 per kilogram. Artinya, ada kenaikan sebesar Rp8.000 per kilogram dalam waktu relatif singkat.

Kenaikan ini bukan sekadar angka di atas kertas. Di tingkat produksi, dampaknya cukup signifikan. Biaya bahan baku yang meningkat otomatis mendorong naiknya harga pokok produksi (HPP).

“Kenaikan bahan baku membuat HPP ikut naik, sehingga harga ke konsumen juga harus disesuaikan,” kata Sandi.

Ia memperkirakan kenaikan biaya produksi berada di kisaran 8 hingga 10 persen. Kondisi ini memaksa pelaku usaha berada dalam posisi sulit: menaikkan harga jual dengan risiko kehilangan pelanggan, atau menahan harga dengan margin keuntungan yang semakin menipis.

Di sisi lain, permintaan pasar justru menunjukkan tren penurunan. Sandi mengungkapkan bahwa jumlah pesanan mulai berkurang, dan konsumen kini lebih sensitif terhadap harga.

“Orderan cenderung menurun, dan pembeli juga mulai menawar harga,” tambahnya.

Fenomena ini mencerminkan tekanan ganda yang dihadapi pelaku usaha rajut, biaya naik, tetapi daya beli melemah.

Baca Juga:Stok Pupuk RI Tak Terpengaruh Penutupan Selat Hormuz?Geger! Warga Temukan Lansia Tewas Hanyut di Sungai Cidurian Jasinga

Meski tidak semua jenis benang mengalami kenaikan, benang akrilik menjadi salah satu yang paling terdampak. Sandi menjelaskan bahwa di tempatnya, jenis benang lain seperti polyester tidak terlalu banyak digunakan, meski kemungkinan dampaknya juga dirasakan oleh produsen lain dengan kebutuhan bahan berbeda.

0 Komentar