Di balik kenaikan harga ini, ada faktor yang lebih luas dan kompleks. Sandi menilai bahwa situasi global, termasuk konflik geopolitik, turut berkontribusi terhadap lonjakan harga bahan baku.
“Salah satunya dampak situasi global seperti konflik atau perang yang memengaruhi harga bahan baku,” jelasnya.
Ia menyinggung ketegangan di kawasan Timur Tengah, termasuk konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat, serta dinamika yang menyeret negara lain di kawasan tersebut.
Baca Juga:Jembatan Penghubung di Rumpin-Bogor Ambruk, Warga Terpaksa Gunakan Jembatan GantungPersepsi Pasar pada Ekonomi RI Membaik Karena Hal Ini?
Ketidakstabilan global ini berdampak pada rantai pasok bahan baku industri tekstil, mulai dari distribusi hingga biaya produksi di tingkat hulu. Akibatnya, pelaku usaha kecil dan menengah seperti di Binong Jati ikut merasakan efek domino yang tidak bisa mereka kendalikan.
Di tengah situasi ini, para perajin rajut tetap berupaya bertahan. Mereka melakukan berbagai penyesuaian, mulai dari efisiensi produksi hingga strategi penjualan yang lebih fleksibel. Namun, harapan terbesar tetap tertuju pada stabilitas harga bahan baku.
“Harapannya harga bahan baku bisa turun dan kembali stabil seperti sebelumnya,” ujar Sandi.
Sentra rajut Binong Jati selama ini dikenal sebagai salah satu ikon industri kreatif Bandung, dengan produk yang telah menjangkau pasar nasional hingga internasional. Namun, kondisi saat ini menjadi pengingat bahwa industri lokal pun tidak kebal terhadap guncangan global.
Di antara suara mesin rajut yang masih berdetak, tersimpan kegelisahan para pelaku usaha yang berharap badai segera berlalu—agar benang-benang yang mereka rajut tak lagi terbelit oleh ketidakpastian harga dan situasi dunia. (Dam)
