Persepsi Pasar pada Ekonomi RI Membaik Karena Hal Ini?

Persepsi Pasar pada Ekonomi RI Membaik Karena Hal Ini?
Ilusrasi persepsi pasart terhadap ekonomi Indonesia. Dok. Pixabay
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Sentimen pasar terhadap ekonomi Indonesia belakangan tengah menjadi sorotan, bahkan rupiah terus mengalami pelemahan hingga berada di angka Rp17.128,95 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis pagi.

Kondisi ini memicu kekhawatiran dan persepsi dari berbagai pihak. Kendati begitu, Kepala Ekonom Trimegah Sekutitas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai, persepsi pasar terhadap ekonomi Indonesia mulai membaik.

Pendekatan proaktif yang dilakukan melalui pertemuan langsung (direct engagement) dengan investor global, dinilai menjadi langkah strategis untuk memperbaiki persepsi pasar terhadap ekonomi Indonesia.

Baca Juga:Stok Pupuk RI Tak Terpengaruh Penutupan Selat Hormuz?Geger! Warga Temukan Lansia Tewas Hanyut di Sungai Cidurian Jasinga

Menurutnya, pertemuan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dengan institusi besar seperti BlackRock di New York, AS, dinilai relevan di tengah dinamika pasar global yang penuh ketidakpastian.

“Pendekatan langsung seperti ini efektif untuk memperbaiki narrative gap antara kondisi domestik dan persepsi investor global. Dalam pasar yang sangat dipengaruhi sentimen dan story, komunikasi yang presisi menjadi krusial,” ujarnya, mengutip ANTARA, Kamis (16/4/2026).

Kendati begitu, ia menegaskan bahwa langkah tersebut bukan satu-satunya faktor penentu dalam membentuk sentimen pasar terhadap ekonomi Indonesia.

Menurutnya, itu bukan pengganti fundamental sebab market noise tidak bisa hanya dilawan dengan cara komunikasi. “Tetap dibutuhkan konsistensi kebijakan dan eksekusi di lapangan,” ujarnya.

Fakhrul menilai pendekatan issuer-investor engagement seperti ini mencerminkan pergeseran strategi komunikasi kebijakan yang kini semakin proaktif dan adaptif terhadap praktik global.

“Kita mulai melihat Indonesia bergerak dari pola komunikasi yang reaktif menjadi lebih forward-looking. Ini mendekati praktik institusi global seperti Goldman Sachs, di mana pengelolaan ekspektasi pasar menjadi bagian dari kebijakan itu sendiri,” jelasnya.

Sebab, dalam konteks saat ini kebijakan tidak hanya soal substansi, tetapi juga bagaimana kebijakan tersebut dikomunikasikan dan dipahami oleh pasar.

Baca Juga:Soal Usulan Moratorium Angkot Lintas Bogor, Pemkab Pilih Berlindung di Balik Kewenangan ProvinsiPJU “Mewah” Milik KDM di Narogong-Kabupaten Bogor Tak Kunjung Berfungsi!

Dalam pertemuan tersebut, Menkeu juga menyampaikan adanya lonjakan penawaran terhadap Surat Berharga Negara (SBN).

Terkait permintaan lelang SBN yang mencapai Rp78,44 triliun itu, Fakhrul menilai faktor eksternal masih memainkan peran signifikan dalam jangka pendek.

Menurut dia, peningkatan permintaan SBN tak bisa lepas dari membaiknya sentimen global yang kembali optimis.

0 Komentar