Ekspektasi terhadap eskalasi konflik geopolitik, khususnya terkait dinamika AS dan Iran, mulai mereda seiring adanya upaya diplomasi yang menurunkan premi risiko global.
“Hal ini mendorong aliran dana kembali ke emerging markets, termasuk Indonesia,” ujarnya.
Meski demikian, Fakhrul mengingatkan pentingnya membedakan antara perbaikan sentimen jangka pendek dan pemulihan kepercayaan yang bersifat struktural.
Baca Juga:Stok Pupuk RI Tak Terpengaruh Penutupan Selat Hormuz?Geger! Warga Temukan Lansia Tewas Hanyut di Sungai Cidurian Jasinga
“Ini adalah window of opportunity. Tantangannya adalah bagaimana momentum ini dikonversi menjadi sticky capital melalui reformasi berkelanjutan dan pendalaman pasar keuangan domestik,” kata Fakhrul.
