JABAR EKSPRES – Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mendorong percepatan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) perumahan sekaligus peningkatan target perbaikan rumah tidak layak huni (rutilahu) di Kabupaten Bandung menjadi 1.200 unit.
Menurut Ara sapaan akrabnya, program KUR perumahan merupakan terobosan pemerintah yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan akses pembiayaan murah bagi masyarakat, khususnya dalam memperbaiki hunian.
“Presiden Prabowo sudah buat program KUR perumahan yang belum pernah ada dari Indonesia merdeka sampai sekarang. Program ini berguna bagi rakyat,” ujarnya saat menghadiri peluncuran BSPS se-Jawa Barat, sosialisasi dan closing KUR Perumahan (Bank BJB), serta sosialisasi rumah subsidi dan program PNM Melawan Rentenir di SMA 1 Katapang, Kabupaten Bandung, Senin (13/4/2026).
Baca Juga:Komisi II DPRD Kabupaten Bogor Ungkap Kebocoran PAD hingga Rp200 M, Pemkab Didesak Bentuk PansusKang Eful Dorong Ketahanan Pangan untuk Pemenuhan Gizi Keluarga
Ia menjelaskan, KUR perumahan hadir sebagai solusi konkret untuk membantu masyarakat, terutama dalam menghindari jeratan rentenir.
Skema yang ditawarkan dinilai jauh lebih ringan, yakni pinjaman di bawah Rp100 juta tanpa jaminan dengan bunga hanya 0,5 persen per bulan atau 6 persen per tahun.
“100 juta ke bawah tidak usah pakai jaminan. Bunganya hanya 0,5% per bulan atau 6% setahun,” katanya.
Selain mendorong akses pembiayaan, Ara juga menekankan pentingnya percepatan program bedah rumah.
Ia mengungkapkan, target rutilahu di Kabupaten Bandung ditingkatkan dari 1.000 menjadi 1.200 unit sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas hunian masyarakat.
Menurutnya, program ini tidak hanya berdampak pada perbaikan tempat tinggal, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.
“Satu rumah yang direnovasi bisa kira-kira tiga orang yang kerja. Artinya ada 3.000 orang yang bekerja di Kabupaten Bandung,” ujarnya.
Baca Juga:Bergerak di Tengah Tantangan Global, Armada Kapal Pertamina Topang Distribusi EnergiKuliah S2 Sambil Kerja, MM UM Bandung Sasar Alumni Aktif dengan Skema Beasiswa
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa perbaikan fisik rumah saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan penguatan ekonomi keluarga. Tanpa dukungan pendapatan yang memadai, kondisi rumah berpotensi kembali memburuk.
“Kalau enggak ada duit, tiga bulan lagi bocor lagi, kumuh lagi. Makanya harus dibarengi dengan pemberdayaan ekonomi,” tegasnya.
Karena itu, Ia juga menyoroti pentingnya integrasi program perumahan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat, termasuk melalui program Permodalan Nasional Madani (PNM) yang banyak menyasar perempuan pelaku usaha rumahan.
