JABAR EKSPRES – Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi mematangkan wacana soal rencana pembangunan bundaran di perempatan Citeureup, simpang pertemuan Jalan Kolonel Masturi dan Jalan Encep Kartawiria. Wacana ini mencuat seiring tingginya beban lalu lintas di kawasan tersebut yang kerap memicu kemacetan.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Cimahi, Endang, menilai pembangunan bundaran menjadi salah satu langkah strategis untuk mengurai kepadatan kendaraan, terutama di simpang dengan pola pergerakan saling-silang.
“Salah satu upaya yang dilakukan oleh Pemerintah dalam rangka mengurangi kemacetan adalah dengan membangun simpang yang tadinya terjadi crossing tapi kita bangun Bundaran,” kata Endang saat dikonfirmasi, Senin (6/4/2026).
Baca Juga:Bukan Sekadar Hiasan, Rudal Rapier di Bundaran Jati Tegaskan Identitas CimahiBundaran Jati Resmi Dibuka, Cimahi Kejar Janji Atasi Kemacetan dan Banjir
Ia berkaca pada dampak pembangunan bundaran Cihanjuang di Jalan Daeng Ardiwinata yang dinilai mampu memperbaiki arus lalu lintas. Pengalaman itu, menurut dia, memperkuat keyakinan bahwa rekayasa serupa dapat diterapkan di Citeureup.
Berdasarkan pemetaan Dinas Perhubungan, terdapat sekitar 10 titik kemacetan di Kota Cimahi. Salah satu yang menjadi perhatian adalah simpang Citeureup, yang selama ini tersendat akibat pertemuan arus kendaraan dari berbagai arah.
“Titik kemacetan di kota ini ada sekitar 10 titik, salah satunya di simpang Jati. Alhamdulillah sudah mulai terurai, dan ke depan, yang jadi perhatian kita yaitu jalan Kolonel Masturi,” ujar Endang.
Namun realisasi proyek tersebut masih menunggu koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Hal ini lantaran Jalan Kolonel Masturi berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi.
Menurut Endang, pembangunan bundaran Citeureup merupakan bagian dari upaya jangka panjang pemerintah kota dalam menjawab persoalan lalu lintas yang kian kompleks. Sejak Cimahi menjadi daerah otonom pada 2001, pertumbuhan penduduk dan kendaraan meningkat tajam, tanpa diimbangi penambahan infrastruktur jalan yang memadai.
“Jumlah penduduk awal 2001 itu hanya 300 ribu jiwa, saat ini sudah hampir menyentuh 600ribu jiwa, sudah hampir 100 persen peningkatannya selama 25 tahun,” ungkapnya.
Kondisi itu berbanding terbalik dengan kapasitas jalan. Dalam kurun 25 tahun, penambahan ruas jalan baru di Cimahi hanya sepanjang 1,6 kilometer, yakni Jalan Aruman dan Jalan Demang Hardjakusumah. Secara keseluruhan, panjang jalan di kota ini sekitar 308 kilometer, mencakup jalan nasional, kota, hingga lingkungan.
