JABAR EKSPRES – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Barat menggencarkan program Outbreak Response Immunization (ORI), khususnya di Kabupaten Tasikmalaya dan Garut. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi peningkatan kasus campak di wilayah tersebut.
ORI merupakan imunisasi campak yang diberikan kepada seluruh anak usia 9 hingga 59 bulan tanpa melihat status imunisasi sebelumnya. Program ini bertujuan untuk menekan penyebaran campak secara cepat dan efektif.
Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Vini Adiani Dewi, menjelaskan bahwa Kabupaten Tasikmalaya dan Garut menjadi prioritas karena terjadi peningkatan kasus campak di kedua wilayah tersebut.
“Pertimbangannya peningkatan kasus campak di dua wilayah tersebut,” ujarnya.
Baca Juga:Puncak Diserbu! Volume Kendaraan Naik 70%, Jalur Puncak-Cianjur Padat MerayapLebaran Jadi Momen Harapan Baru, 452 Warga Binaan Lapas Garut Dapat Remisi, 2 Langsung Bebas!
Vini melanjutkan, pelaksanaan ORI akan digencarkan sepanjang April. Sebelumnya, program ini sempat dilakukan pada Februari, tapi masih terbatas di beberapa puskesmas di Kabupaten Garut, seperti Puskesmas Cimaragas, Bagendit, dan Cibiuk.
Selain ORI, Dinkes juga melaksanakan Catch up Campaign (CUC) untuk menekan campak selain ORI, yakni imunisasi campak rubella bagi sasaran anak usia 9 hingga 59 bulan yang belum mendapatkan imunisasi campak rubella lengkap.
CUC dilaksanakan di Kota Bogor, Kota Depok, Kota Bandung, Kota Bekasi, Kota Cirebon, Kabupaten Bogor, Kabupaten Cirebon, dan Kabupaten Subang. “Ada delapan kabupaten/ kota. CUC masih berlangsung. Itu untuk mencapai 100 persen,” cetusnya.
Menurut Vini, daerah juga tidak perlu bingung soal stok vaksin campak. Karena secara stok masih cukup tersedia untuk program tersebut.
Jika Puskesmas atau daerah kekurangan, bisa minta ke Dinkes Jawa Barat. “Paling yang sedang menunggu itu terkait alat suntik. Diperiksa Kemenkes tapi sudah siap untuk didistribusikan,” katanya.
Vini juga mengingatkan seluruh jajaran Dinkes di daerah agar tetap siaga terhadap perkembangan kasus campak. Setiap dugaan kasus (suspek) diharapkan dapat dilaporkan dalam waktu 24 jam.
Selain itu, penanganan harus segera dilakukan, antara lain dengan mengisolasi pasien minimal tujuh hari sejak munculnya ruam merah, memberikan vitamin A sesuai dosis usia, memenuhi kebutuhan gizi dengan makanan tinggi protein dan kalori, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
