Kenaikan harga plastik tidak hanya berdampak pada industri, tetapi juga akan merembet ke harga barang konsumsi.
Beberapa produk yang berpotensi naik lebih cepat antara lain kantong sampah, kemasan makanan dan minuman, produk plastik sekali pakai.
Sementara itu, sektor seperti otomotif mungkin mengalami dampak lebih lambat karena menggunakan kontrak harga jangka panjang.
Baca Juga:Kementerian ESDM Buka Suara Usai Ramai Pembatasan BBM Pertalite 50 Liter per HariTelkom AI Center Makassar Jadi Motor Baru Inovasi Digital di Indonesia Timur
Efek Berantai ke Harga Makanan
Biaya kemasan yang meningkat juga berpotensi mendorong kenaikan harga makanan dalam beberapa bulan ke depan.
Dalam jangka waktu 2–4 bulan, konsumen kemungkinan akan mulai merasakan dampaknya di pasar, terutama pada produk kemasan.
Meski ada alternatif seperti kertas atau kaca, peralihan dari plastik tidak bisa dilakukan secara instan.
Selain membutuhkan biaya besar, perubahan ini juga memerlukan waktu lama dalam proses produksi dan distribusi.
Oleh karena itu, dalam jangka pendek, ketergantungan pada plastik masih sangat tinggi.
Para analis memperkirakan, jika harga energi tetap tinggi selama beberapa bulan, kenaikan harga plastik bisa bertahan hingga 1–2 tahun ke depan.
Bahkan jika konflik berakhir dalam waktu dekat, pemulihan rantai pasokan global tidak akan terjadi secara instan.
Baca Juga:Tingkatkan Keamanan Aset Nasabah, BRI BO Bandung Asia Afrika Hadirkan Layanan SDB dengan Privilege KhususBocoran Tampang Honda Vario 160 2026, Fitur Bakal Lebih Canggih Bak Motor Premium
Dengan berbagai faktor yang memengaruhi, kenaikan harga plastik tampaknya sulit dihindari.
Kondisi ini berpotensi memicu efek domino pada harga berbagai produk, sehingga konsumen disarankan mulai bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan harga barang kebutuhan sehari-hari.
