Selain sistem aplikasi, lanjut Adhy, pihaknya berkoordinasi juga yang diperkuat melalui grup WhatsApp lintas dinas yang berisi unsur DLH, BPBD, Damkar, Dinkes, dan instansi lainnya.
Dalam praktiknya, setiap laporan yang masuk akan melalui proses pencatatan (ticketing) sebelum diteruskan ke instansi terkait untuk ditindaklanjuti.
“Bikin tiket secara manual disampaikan ke grup yang ada di call center 112 itu ada DLH, ada berbagai macam dinas lah DLH, BPBD, Damkar, Dinkes dan lain sebagainya. Nah, kemudian juga yang kedua setelah proses ticketing itu kita melakukan follow up. Di mana follow up yang kita lakukan ini adalah untuk memastikan apakah itu sudah ditindaklanjuti atau seperti apa,” tutur Adhy.
Baca Juga:Perkuat Ketahanan Pangan Jelang Lebaran, BULOG Bandung Salurkan Bantuan Beras dan Minyak GorengDirikan Klub Satelit di Bandung, PB Jaya Raya siap Hadirkan Atlet Berpotensi untuk Bulu Tangkis
Terkait kecepatan respons, layanan 112 Cimahi menerapkan standar operasional dengan waktu tanggap maksimal lima menit sejak panggilan diterima.
“Jadi ketika ada telepon masuk, kita angkat teleponnya, lalu setelah telepon sudah masuk kita kan pasti akan melakukan detailing kejadian ya. Kita akan menanyakan kira-kira kejadiannya ada di mana, kemudian kejadiannya seperti apa, seperti itu,” ujar dia.
“Dan kemudian setelah lakukan ticketing di sistem ini, kita akan memastikan kembali bahwa itu memang apakah itu benar kejadian atau tidak. Nah, ini untuk meminimalisir hoax atau prank call,” sambungnya.
Dalam operasionalnya, layanan 112 Cimahi melibatkan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) sebagai bagian dari petugas lapangan.
“Kita menjadi salah satu pelopor untuk memberdayakan komunitas informasi atau kelompok informasi masyarakat,” katanya.
Menurut Adhy, keterlibatan KIM dinilai efektif untuk membantu verifikasi laporan langsung di wilayah masing-masing, sekaligus menekan potensi laporan palsu.
“Itu juga bisa dikonfirmasi apakah memang ada kejadian tersebut di wilayahnya atau tidak, jadi lebih tahu dan meminimalisir prank call tadi,” cetusnya.
Baca Juga:Perkuat Silaturahmi, Ketua Relawan Bedas Galih Hendrawan Salurkan Paket Sembako di PameungpeukORIS Hadir di Bandung, PT SMI Ajak Masyarakat Jawa Barat Berkontribusi dalam Pembangunan Nasional
Untuk memastikan layanan tetap berjalan tanpa henti, operasional call center dibagi dalam tiga shift setiap harinya.
“Nah, di masing-masing shift ini ada satu orang petugas, satu orang petugas yang berjaga. Jadi insyaallah untuk 112 Cimahi ini tidak akan ibaratnya moal tutup lah gitu karena memang ada petugasnya gitu ada petugasnya yang berjaga siap siaga 24 jam selama 7 hari,” tandas Adhy. (Mong)
