Indef Optimis Kredit Perbankan Tumbuh Sesuai Target, Ini Alasannya!

Indef Optimis Kredit Perbankan Tumbuh Sesuai Target, Ini Alasannya!
Ilustrasi kartu kredit perbankan. Dok. Pixabay
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kredit perbankan diklaim masih berpotensi tumbuh sesuai target Bank Indonesia (BI). Hal itu disampaikan Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman, Senin.

Menurutnya, meski cenderung berkisar di batas bawah, target pertumbuhan kredit perbankan BI masih berpotensi tercapai.

“Secara prospek, pertumbuhan kredit masih berpeluang berada dalam kisaran target Bank Indonesia di level 8-12 persen, tetapi dengan kecenderungan berada di batas bawah,” ujarnya, dikutip Selasa (31/3/2026).

Baca Juga:Ikuti Pasar Global, Harga BBM Nonsubsidi Bakal Naik! Pakar Nilai OJK Perlu Perketat Pengawasan Pinjol, Demi Lindungi Masyarakat?

Ramadan dan Lebaran, serta akselerasi belanja pemerintah, kata dia, menjadi momentum bagi pertumbuhan kredit perbankan.

Selain itu, ia berharap kebijakan likuiditas makroprudensial dapat memberi dorongan jangka pendek bagi pertumbuhan kredit.

Kendati begitu, ia menyadari bahwa pertumbuhan kredit akan terbatas jika tanpa pemulihan yang lebih kuat di sektor rill, khususnya melalui investasi.

“Artinya, target mungkin tercapai secara agregat, tetapi belum mencerminkan penguatan intermediasi yang berkualitas,” ujarnya.

Kemudian, ia menilai adanya kesenjangan antara likuiditas yang cukup longgar dengan permintaan kredit yang masih lemah, menjadi tantangan utama bagi sektor perbankan. Terlebih di tengah peningkatan risiko kredit dan tekanan terhadap margin.

Ia juga menyoroti penyaluran kredit yang masih terkonsentrasi pada sektor tertentu, sehingga belum menciptakan basis pertumbuhan yang luas.

Menurut data Bank Indonesia (BI) di Jakarta, Jumat (27/3), penyaluran kredit pada Februari 2026 tumbuh 8,9 persen year-on-year (yoy), lebih rendah dibandingkan pada Januari 2026 yang sebesar 10,2 persen yoy.

Baca Juga:Percepatan Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Antisipasi Lonjakan Harga Minyak?Pertamina Perkuat Budaya Hemat Energi, dari Kantor hingga Program untuk Masyarakat

Rizal mengatakan perlambatan pertumbuhan kredit tersebut mencerminkan lemahnya transmisi antara likuiditas dan permintaan riil.

Ia menjelaskan, dari sisi permintaan, para pelaku usaha masih cenderung wait and see di tengah ketidakpastian global dan tingginya cost of capital (biaya modal), sehingga ekspansi investasi dan kebutuhan modal kerja tertahan.

Ia menyatakan, rumah tangga juga belum cukup kuat menopang permintaan kredit, tercermin dari kecenderungan konsumsi yang lebih hati-hati.

Sementara dari sisi supply, perbankan memperketat seleksi penyaluran karena meningkatnya risiko, terutama di sektor-sektor yang sensitif terhadap tekanan perekonomian global, sehingga meskipun likuiditas relatif cukup, keinginan untuk melakukan ekspansi kredit belum sepenuhnya pulih.

0 Komentar