Percepatan Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Antisipasi Lonjakan Harga Minyak?

Percepatan Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Antisipasi Lonjakan Harga Minyak?
Ilustrasi kendaran listrik. Dok. Pixabay
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Peralihan penggunaan kendaraan bermotor menjadi kendaraan listrik masih menjadi perbincangan, di tengah ancaman kenaikan harga minyak dunia, menyusul ketegangan di Timur Tengah yang kian memanas.

Pengamat otomotif Martinus Pasaribu menilai, percepatan adopsi kendaraan listrik (electic vehicle/EV) merupakan langkah strategis untuk meredam tekanan harga minyak dunia.

Menurutnya, kendaraan listrik dapat menekan ketergantungan terhadap impor, sehingga tekanan terhadap anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) juga berkurang.

Baca Juga:Pertamina Perkuat Budaya Hemat Energi, dari Kantor hingga Program untuk MasyarakatStok Energi Nasional Diklaim Tak Terdampak Perang Iran Vs As-Israel, Benarkah?

“Setiap kenaikan harga minyak global akan mendorong pembengkakan subsidi dan kompensasi energi. Ini berisiko mengurangi ruang fiskal untuk belanja produktif seperti infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan,” ujarnya, dikutip Senin (30/3/2026).

Saat ini, kata dia, kebutuhan minyak nasional masih dipenuhi dari impor sekitar 60-70 persen, sementara lifting minyak domestik terus menurun dan berada di kisaran 600 ribu barel per hari.

Ia menyebut bahwa hal itu membuat APBN sangat rentan terhadap gejolak harga minyak dunia. Dalam asumsi makro APBN, kata dia, kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel dapat meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi hingga Rp8-10 triliun.

Dengan realisasi harga minyak dunia yang dapat menembus 90 – 100 dolar AS per barel, total belanja subsidi energi berpotensi kembali membengkak mendekati atau bahkan melampaui Rp300 triliun per tahun, seperti yang pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Terkait hal itu, dia menambahkan, kendaraan listrik menjadi solusi jangka panjang karena mampu mengurangi konsumsi BBM secara signifikan, sebab selain menekan impor, peralihan ke listrik juga membantu mengurangi kebutuhan subsidi BBM yang selama ini sebagian besar dinikmati oleh sektor transportasi.

Dari sisi efisiensi, jelasnya, kendaraan listrik jauh lebih hemat. Biaya energi kendaraan listrik rata-rata hanya sekitar Rp300 – 500 per km, dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin yang bisa mencapai Rp1.000 – 1.500 per km, tergantung jenis kendaraan dan harga BBM, sehingga terdapat potensi penghematan biaya operasional hingga 60 – 70 persen bagi pengguna.

“Diperkirakan, penggunaan 1 juta mobil listrik dapat menghemat sekitar 1,25 juta kiloliter BBM per tahun, sementara 5 juta motor listrik berpotensi menghemat hingga 1,75 juta kiloliter,” ujar Martinus.

0 Komentar