Nyawang Rasa: Ikhtiar Paguyuban Pakusunda Menyatukan Potensi Budaya Sunda di Cimahi

Nyawang Rasa: Ikhtiar Paguyuban Pakusunda Menyatukan Potensi Budaya Sunda di Cimahi
Ketua DPC Paguyuban Pakusunda Cimahi, Kang Alit Nurzaelani saat Sedang Merapikan Sesajen dalam Acara Nyawang Rasa di Pendopo DPRD Cimahi (Mong)
0 Komentar

“Pada akhirnya, efisiensi selalu dibatasi. Namun, semoga dengan dukungan dari semua kelompok yang peduli terhadap masyarakat Sunda, kita dapat mewujudkan acara ini,” kata Alit.

Di tengah gempuran teknologi digital, Paguyuban Pakusunda juga mendorong pendekatan literasi budaya yang lebih konkret, terutama bagi generasi muda. Salah satunya melalui pengenalan alat musik tradisional seperti karinding.

“Jadi ada yang memang langsung, misal dari kesenian yang ada di Pakusunda. Itu ada namanya Karinding. Kita mampu mengolah, membuat alat kesenian itu, gitu. Jadi kesenian Karinding kita buat nanti edukasi bagaimana cara memainkannya, kita irama lagunya seperti apa,” cetusnya.

Baca Juga:Bukti Daya Beli Kuat, Uang Beredar di Lebaran Capai Rp1.370 TriliunPrioritaskan Rakyat, Harga BBM Subsidi Dijaga Tetap Stabil di Tengah Gejolak Global

Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan berbagai komunitas lintas budaya di Cimahi. Alit menyebut, potensi budaya lokal masih tersebar dan belum terwadahi secara optimal.

“Kesenian tari, budaya dari tari, ini ada dari Rengganis kan, gitu. Nah kita rangkul semua jadi potensi-potensi yang ada di Kota Cimahi tuh kita gali dulu nih,” kata dia.

Ia juga menyinggung potensi budaya yang bisa dikembangkan menjadi nilai ekonomi, sekaligus daya tarik wisata, seperti yang telah dilakukan di kawasan Cireundeu.

“Karena dulu sempat berjalan sebelum Covid-19, karena Covid-19 jadi terpisahlah anak-anak itu, banyak yang ke Bandung, banyak yang keluar kota gitu potensi-potensi besarnya,” tegasnya.

Menurut dia, momentum Nyawang Rasa menjadi titik awal menghidupkan kembali jejaring komunitas budaya yang sempat terputus. Kehadiran perwakilan dari berbagai daerah seperti Garut, Cirebon, dan Kabupaten Bandung menjadi sinyal konsolidasi tersebut mulai terbentuk kembali.

“Tapi yang paling penting sih kita program ke depannya apa yang harus kita lakukan bersama pemerintah dan masyarakat nih, gitu,” tutur Alit.

Rangkaian acara juga diisi oleh kehadiran tokoh Aksara Sunda, Abah Ujang Laip, serta komunitas 111 Serat Awi yang bergerak dalam pengolahan alat musik berbahan bambu. Kegiatan berlangsung hingga malam hari.

Baca Juga:Kemnaker Perketat Pengawasan, Aduan THR Tak Lagi Berhenti di AdministrasiTransisi Kompor Listrik Dinilai Jadi Kunci Kurangi Ketergantungan Impor Energi, Benarkah?

Alit berharap, dari kegiatan ini akan muncul kembali ruang-ruang ekspresi budaya yang sempat hilang, sekaligus memperkuat posisi Cimahi sebagai salah satu simpul pelestarian budaya Sunda.

0 Komentar