Transisi Kompor Listrik Dinilai Jadi Kunci Kurangi Ketergantungan Impor Energi, Benarkah?

Transisi Kompor Listrik Dinilai Jadi Kunci Kurangi Ketergantungan Impor Energi, Benarkah?
Ilustrasi memasak di kompor listrik. (Dok. Pixabay)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Di tengah tekanan harga energi global yang terus meningkat, wacana peralihan dari kompor LPG ke kompor listrik kembali menguat sebagai solusi strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi.

Managing Director Energy Shift Institute, Putra Adhiguna, menilai bahwa penggunaan kompor listrik bukan sekadar alternatif, tetapi langkah penting menuju kemandirian energi nasional.

Saat ini, sekitar 75–80 persen kebutuhan LPG Indonesia masih bergantung pada impor, yang berdampak langsung pada membengkaknya beban subsidi negara.

Baca Juga:PELNI Siaga Arus Balik Lebaran 2026, Penumpang Diperkirakan Capai 27 Ribu OrangStrategi Polri Hadapi Lonjakan Arus Balik Lebaran 2026, One Way Disiapkan Bertahap

“Kompor listrik sangat penting karena kita perlu bergeser dari LPG yang sekitar 75-80 persen impor dan semakin menjadi beban,” kata Putra dikutip dari ANTARA, Kamis (26/3/2026).

Menurutnya, pentingnya untuk menerapkan solusi energi untuk rumah tangga secara regional, bukan secara nasional, sehingga lebih tepat sasaran.

Untuk daerah tertentu seperti perkotaan di mana jaringan distribusi gas bisa lebih kuat, ia menilai penggunaan jaringan gas (jargas) lebih menjanjikan.

Sementara, untuk daerah lain dengan jaringan listrik yang sudah memadai dan belum masuk di dalam peta jalan pembangunan jargas, maka mengganti kompor gas menjadi kompor listrik diyakini menjadi jalan utama.

“Alasan bahwa anggaran tidak mencukupi harus disandingkan dengan bebas subsidi LPG yang sudah melebihi kewajaran,” ucap Putra.

Ia menilai perlunya mengambil pelajaran dari program kompor listrik dan pemasak nasi (rice cooker) sebelumnya untuk memastikan kesiapan masyarakat, baik dari sisi ketersediaan dan kesiapan jaringan listrik.

“Perhitungan PLN mengklaim biaya memasak bisa lebih hemat 10-15 persen (dibandingkan LPG),” ujarnya.

Baca Juga:Lebaran 2026 di Stasiun: Bukan Sekadar Transit, Tapi Ruang Nyaman untuk KeluargaStrategi Hindari Macet Arus Balik, Polisi Imbau Pemudik Atur Jadwal Lewat WFA

Menurut Putra perlu adanya antisipasi gangguan-gangguan dari pihak yang merasa terganggu dengan transisi dari kompor gas ke kompor listrik.

“Penting diantisipasi, jangan sampai politik-politik kecil menghalangi kepentingan nasional untuk bisa lebih mandiri energi, karena perubahan menuju kompor listrik tentu akan mengusik rantai pemasok yang sebelumnya ada,” ucap Putra.

Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno mengatakan, transisi dari kompor LPG menjadi kompor listrik membutuhkan biaya lebih murah jika dibandingkan dengan biaya yang digelontorkan untuk dana untuk subsidi impor LPG.

0 Komentar