Menembus Macet dan Panas H-2 Lebaran, Cerita Pemudik Motor Menjaga Rindu Tetap Hidup

Menembus Macet dan Panas H-2 Lebaran, Cerita Pemudik Motor Menjaga Rindu Tetap Hidup
Pemudik melintasi jalur Cicalengka menuju Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (19/3). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Deru knalpot bersahut-sahutan di jalur Nagreg, Kabupaten Bandung pada H-2 atau Kamis (19/3/2026), bercampur dengan terik matahari yang seolah tak memberi ampun.

Di antara barisan panjang kendaraan yang merayap, para pemudik motor bertahan membawa rindu, harapan, sekaligus kelelahan.

Sri (55) menggenggam stang motornya lebih erat. Sejak subuh ia berangkat dari Padalarang, berharap bisa mencuri waktu sebelum jalan dipadati kendaraan. Namun harapan itu pupus begitu memasuki kawasan Cicalengka.

Baca Juga:Cegah Bahaya di Jalur Mudik, Polisi Amankan Pria Berteriak di Pinggir Tol PalikanciArus Mudik 2026, Lebih dari 76 Ribu Kendaraan Memasuki Bandung dan Sekitarnya

“Berangkat dari Padalarang subuh, sekitar jam empat. Saya kira masih sepi, ternyata sampai Cicalengka langsung macet. Ini sudah lebih dari dua jam di sini saja, maju sedikit berhenti lagi,” tuturnya, dengan napas yang terdengar berat.

Baginya, mudik tahun ini terasa berbeda. Jalanan lebih padat, perjalanan lebih menguras tenaga. Ia menduga, banyak orang yang akhirnya kembali mudik setelah sekian waktu tertahan.

“Tahun ini terasa lebih ramai. Mungkin karena orang-orang sudah lama tidak mudik bebas, jadi sekarang seperti balas rindu,” katanya.

Namun di balik euforia itu, ada perjuangan yang tak ringan. Panas menyengat menjadi lawan yang tak kalah berat dibanding kemacetan. Helm yang dikenakan justru terasa seperti menyimpan bara.

“Panasnya luar biasa. Helm rasanya seperti menahan api di kepala,” ujarnya. Ia mengaku beberapa kali menepi, sekadar untuk menarik napas dan meneguk air minum.

Di usianya yang tak lagi muda, tubuhnya cepat lelah. Sempat terlintas rasa takut saat perjalanan menanjak motor mulai panas, kepala terasa pusing. Ia nyaris menyerah.

“Tadi sempat pusing di jalan. Ada rasa takut juga, takut tidak kuat. Tapi saya bilang, sedikit lagi, ini demi keluarga,” ucapnya lirih.

Baca Juga:Mudik Gratis, Sinergi Pertamina-Pemerintah Dukung Perjalanan Aman dan Hemat EnergiArus Mudik Nagreg Meningkat di H-2 Lebaran, Dishub Kabupaten Bandung Prediksi Puncak Terjadi Hari Ini

Di Yogyakarta, anak dan cucunya menunggu. Sudah dua tahun mereka tak berkumpul lengkap. Bagi Sri, perjalanan ini bukan sekadar pulang, melainkan upaya mengumpulkan kembali kebahagiaan yang sempat tercerai.

Sementara itu, di sisi lain jalur yang sama, Asep (25) menjalani perjalanan dengan cara berbeda, lebih santai, namun tetap penuh tantangan. Pemudik asal Bandung yang menuju Garut ini mengaku kemacetan tahun ini termasuk yang terparah yang pernah ia rasakan.

0 Komentar