Menembus Macet dan Panas H-2 Lebaran, Cerita Pemudik Motor Menjaga Rindu Tetap Hidup

Menembus Macet dan Panas H-2 Lebaran, Cerita Pemudik Motor Menjaga Rindu Tetap Hidup
Pemudik melintasi jalur Cicalengka menuju Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (19/3). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

“Macetnya parah tahun ini. Saya sering mudik, tapi yang sekarang terasa lebih padat,” katanya.

Ia memilih sepeda motor karena dianggap lebih fleksibel. Meski realitanya tetap terjebak, setidaknya masih ada ruang untuk bergerak perlahan di sela kendaraan.

Namun, panas tetap menjadi musuh bersama. Keringat, haus, dan lelah datang silih berganti. Ia bahkan harus beberapa kali berhenti hanya untuk membeli air minum.

Baca Juga:Cegah Bahaya di Jalur Mudik, Polisi Amankan Pria Berteriak di Pinggir Tol PalikanciArus Mudik 2026, Lebih dari 76 Ribu Kendaraan Memasuki Bandung dan Sekitarnya

Meski begitu, Asep mencoba berdamai dengan keadaan. Ia memilih menikmati perjalanan, menjadikannya bagian dari cerita mudik yang akan selalu diingat.

“Saya coba santai saja. Enggak kepengen cepat sampai. Kalau emosi, perjalanan terasa makin lama,” ujarnya.

Di balik keinginannya untuk segera sampai dan bertemu keluarga, ada hal lain yang diam-diam membayangi pertanyaan klasik saat Lebaran.

“Biasanya ditanya macam-macam, kerjaan bagaimana, kapan nikah. Kadang itu lebih bikin pusing daripada macet di jalan,” katanya sambil tersenyum tipis.

Namun, seperti Sri, ia tetap memaknai mudik sebagai momen penting. Ada daya tarik yang selalu memanggil untuk pulang, apa pun rintangannya.

Di tengah kemacetan, panas, dan kelelahan, satu hal yang tetap hidup adalah rindu. Rindu yang membuat perjalanan sejauh apa pun terasa layak ditempuh.

“Mau seberat apa pun perjalanannya, tetap ada rasa yang bikin ingin pulang lagi setiap tahun,” pungkas Asep.

0 Komentar