Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menjelaskan bahwa kebijakan ini juga bertujuan memberikan pemahaman kepada siswa mengenai teknologi digital.
Melalui pedoman tersebut, sekolah akan tetap mengajarkan coding dan kecerdasan buatan kepada siswa.
Tujuannya agar mereka memiliki keterampilan teknologi yang relevan dengan perkembangan zaman.
Baca Juga:Bacaan Niat Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri dan Keluarga Lengkap Arab, Latin, dan ArtinyaBenarkah Penerima Bansos PKH Bakal Jadi Anggota Kopdes Merah Putih? Berikut Penjelasannya
Menurut Abdul Mu’ti, pembelajaran AI di sekolah difokuskan pada dua hal utama:
1. Memberikan kemampuan dasar penggunaan teknologi seperti coding dan AI
2. Memanfaatkan teknologi untuk menunjang proses belajar di kelas
Untuk mendukung implementasi kebijakan ini, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah pendukung.
Salah satunya adalah pelatihan khusus bagi guru yang akan mengajar materi coding dan kecerdasan buatan di sekolah.
Selain itu, kementerian juga telah menyiapkan materi pembelajaran resmi yang dapat digunakan sebagai panduan.
Dengan adanya pelatihan dan bahan ajar tersebut, pemerintah berharap penggunaan AI di lingkungan pendidikan dapat berlangsung secara aman, terarah, serta tetap memperkuat proses belajar mengajar.
SKB Tujuh Menteri Atur Pemanfaatan AI dalam Pendidikan
Pedoman ini tertuang dalam SKB Tujuh Menteri tentang Pemanfaatan Teknologi Digital dan Kecerdasan Artifisial dalam Pendidikan.
Penandatanganan kebijakan tersebut melibatkan beberapa kementerian, antara lain:
• Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan
• Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia
• Kementerian Agama Republik Indonesia
• Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia
• Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia
• Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia
• BKKBN
• Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia
Melalui kebijakan ini, pemerintah berharap pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan dapat berjalan secara seimbang mendukung pendidikan tanpa mengurangi kemampuan berpikir kritis siswa.
